0

She Will Come!

Posted by Dizz on 1:41:00 AM in
Namanya Chris. Christine Gaffner. Dia seorang perempuan besar berambut ikal pendek yang telah memiliki dua putri yang dikandungnya sendiri. Namun, anak-anaknya, perempuan dan lelaki, jauh lebih banyak daripada itu dan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tidak. Saya tidak sedang lebay. Ini benar, kok.

Dia adalah koordinator saya ketika saya tinggal bersama keluarga Gordon di Lake Station dan Hobart, Indiana, Amerika Serikat. Koordinator adalah posisi yang diberikan bagi relawan organisasi pertukaran pelajar American Field Service (AFS) yang bersedia mengurus anak-anak pertukaran pelajar yang dikirim ke wilayahnya. Kata “mengurus” yang saya gunakan berarti macam-macam, mulai dari mencarikan keluarga angkat yang mau menampung, mencarikan sekolah yang mau menerima, menemani pelajar pertukaran sejak orientasi hingga tiba di kota tempat mereka akan tinggal, membuat rencana dan mengatur kegiatan yang akan mereka lakukan selama di sana, menjadi penengah bila ada konflik antara pelajar dan keluarga angkat, menjadi penghubung antara pelajar dan organisasi AFS, hingga menampung sementara mereka yang belum mendapatkan keluarga agkat. Repot, kan? Ya, koordinator yang baik akan melakukan semua itu dengan baik pula. Tapi, yah, memang tidak semuanya sebaik itu, sih. Oleh karena itulah, saya bisa berkali-kali mengatakan, “I love Chris!

Ketika saya berada di Indiana sekitar tahun 2006 dan 2007, dia mengurus lebih dari sepuluh anak selain saya. Awalnya hanya enam atau tujuh, kemudian bertambah dan bertambah lagi. Hal ini, salh satunya, disebabkan karena dia tidak pernah menolak bila ada anak yang dipindahkan dari wilayah lain ke wilayahnya disebabkan belum juga mendapatkan atau tidak cocok dengan keluarga angkat. Baik, kan? Ya. Selain itu, dia juga ramah, humoris, terbuka, berhati lembut, keibuan, perhatian, namun tetap bisa tegas. Oleh sebab itu, dia bisa menjadi sosok ibu ketiga (jika bukan kedua) setelah ibu kandung dan ibu angkat bagi pelajar dari negara-negara seperti Indonesia, Filipina, Thailand, Ghana, Brazil, Jerman, Turki, Rusia, Azerbaijan, dan Uzbekistan.

Mau kenalan? Bisa saja. Bagi yang berdomisili di Jabodetabek, bertemu denganya bahkan bukan hal yang mustahil. Kenapa? Karena dia akan datang! Ya. Chris akan datang. Dia akan naik pesawat dari Amerika ke Jakarta untuk menghadiri re-orientasi AFS dan tiba pada tanggal 2 Agustus 2010 sekitar pukul setengah enam petang di Bandara Soekarno-Hatta. Insya Allah.

Hm... Hm... Saya senang sekali. Kalau dia jadi datang, saya akan berusaha menemui dia di bandara atau setidaknya mengunjungi dia selama di Jakarta. Sebab, selain koordinator yang sangat baik, dia juga akan menjadi orang Indiana pertama yang akan saya temui lagi setelah sekian lama. Hebatnya, kali ini dia yang datang ke sini! Wah, wah!

Hehehe... Tetapi tidak boleh terlalu excited. Kemungkinan terjadinya perubahan selalu ada. Manusia boleh berkehendak, namun Tuhan yang menentukan, right? Hanya ingin berdoa agar jika dia jadi datang, mudah-mudahan bisa tiba dan pulang kembali dengan selamat sehat wal afiat, bisa menikmati waktunya di Jakarta, dan tidak kapok untuk datang lagi. Aamiiiin... Hmm... Kira-kira, baiknya, dia saya ajak jalan-jalan ke mana, ya?


Sincerely,
Me,
18-5-4

0

Chances: Butuh Uang dan Kerjaan untuk Mengisi Liburan?

Posted by Dizz on 3:11:00 PM in
"Running After Flying Money" by DeCielo (2014)
Liburan panjang selalu menyajikan sebuah dilema atas dua pilihan yang berseberangan pada mahasiswa seperti saya. Mau bengong? Atau berusaha mencari tambahan uang? Ya. Bagi mahasiswa dengan kantong pas-pasan serta kebiasaan boros yang tidak tertolong seperti saya, pulang kampung memang bukan pilihan. Harga tiket yang sedang diterbangkan angin ke langit membuat rindu harus tetap ditahan seperti dendam.


Bengong saja selama tiga bulan tentu bukan pilihan yang baik dan bijak. Selain tidak sehat, buang-buang waktu, dan umumnya berakhir dengan makan, tidur, lalu makan lagi dan tidur lagi, bengong juga tidak membawa manfaat signifikan bagi kondisi finansial pribadi. Oleh sebab itu, pilihan bijak yang tersisa tentu hanya mencari tambahan uang. Namun, di kondisi sulit yang berkepanjangan ini, pekerjaan macam apa yang bisa didapatkan?

Perempuan yang berdomisili di wilayah Jabodetabek pada bulan-bulan seperti ini sebenarnya mendapatkan privillege lebih dalam mencari pekerjaan. Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang diselenggarakan setiap tahun sekitar bulan Juni hingga Juli jelas membutuhkan banyak tenaga kerja untuk menjadi sales promotion staff. Dalam hal ini, perempuan rupawan dengan kemampuan interpersonal tinggi tentu lebih diutamakan dibandingkan dengan lelaki. Selain itu, sejumlah restoran cepat saji juga membuka lowongan kerja paruh waktu untuk umum, dan yang sering memanfaatkannya tentu mahasiswa yang sedang liburan. Namun, semua itu bagai mimpi yang tak akan teraih jika mengingat tinggi badan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada saya. Jadi, ya, sudahlah, ya.

Meskipun demikian, tidak berarti kesempatan memperoleh surplus finansial lantas hilang begitu saja. Jika Anda seperti saya yang tidak memiliki banyak kegiatan, tidak bisa ke mana-mana, lebih sering stay di kost-an atau kampus untuk online, bisa dan mau menghabiskan banyak waktu membaca, serta memiliki kecenderungan besar untuk menulis pikiran-pikiran yang melintasi benak, maka kesempatan untuk mendapatkan uang dari depan layar laptop atau komputer sangat besar, lho! Bukan. Bukan lewat bisnis online yang sedang menjamur di Facebook itu. Hanya dengan menulis. Menulis? Ya. Menulis.

Kompetisi menulis biasanya menjamur di dunia maya menjelang hari-hari besar nasional. Hari Kartini, Sumpah Pemuda, atau yang lainnya cenderung mendorong sejumlah instansi untuk memperingatinya melalui penyelenggaraan kompetisi. Search engine seperti Google adalah alat utama yang dapat dimanfaatkan saat mencari informasi. Selain itu, situs seperti Lombalomba.com dan Ajangkompetisi.com juga sering menjadi kiblat bagi banyak pemburu hadiah. Yes, that’s right! Jika menjadi bounty hunter dalam game online bisa menghasilkan emas bagi karakter game Anda, bounty hunter yang satu ini bisa mendatangkan yang lebih hebat lagi: uang sungguhan.

Iya, sih. Tidak ada jaminan bahwa Anda pasti menang setiap kali mengikuti suatu perlombaan. Namun, seperti yang sering saya ucapkan, ketika mengikuti suatu lomba ada dua kemungkinan, yaitu menang atau kalah. Akan tetapi, jika tidak ikut, kemungkinannya hanya satu. Ya, tidak mungkin menang, kan? Tidak ada salahnya mencoba dan berusaha. Jika menang, uang jutaan rupiah bisa menghiasi buku tabungan. Jika kalah? Ya, setidaknya proses yang telah dijalani membantu kita mengembangkan diri dan bakat kepenulisan, bukan?

Keep trying and praying! Siapa tahu rezeki kita datangnya memang lewat situ. Oh, ya, tapi jangan lupa untuk berusaha bersabar, ya. Soalnya, jangka waktu antara deadline lomba dan pengumuman pemenang biasanya cukup lama. Kalau perlu, lupakan dan ikhlaskan saja setelah mengirim karya. Toh, kalau menang pasti akan ada yang menghubungi juga. Okay, then. Selamat menulis!


Sincerely,
Me,
18-5-4

Copyright © 2009 Scribbling Dizz All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.