0
Tentang Si Afa dan Tahun yang Akan Datang
Dear Readers,
| "Si Afa menunggu print out-nya" Photo taken by Dizz |
Sebelumnya, kami--well, sebenarnya mungkin cuma saya--sempat khawatir karena tinggal Afa Marafa yang belum menyelesaikan studinya. Dengan gayanya yang santai dan self-esteem contingency Afa yang tampaknya memang tidak terletak di dunia akademik, lulus tepat waktu memang bukan target yang mendesak baginya. Namun, mengingat satu per satu dari kami sudah mulai lulus, bukan hanya dari universitas tercinta, tetapi juga dari Pondok Ganeca, saya tidak ingin Afa melalui masa-masa pengumpulan skripsi, sidang, revisi, dan wisudanya sendiri. Terbayang panik-paniknya, penuh tangisnya, serta haru birunya pengalaman saya setahun yang lalu. Jika saat itu harus dilalui sendirian, saya pun tidak yakin mampu. Oleh sebab itu, hari ini, meskipun harus terbangun berkali-kali, bangun jauh lebih pagi, tidak apa-apa, yang penting bisa membantu si Afa Marafa menge-print draft akhirnya di saat abang-abang fotokopian mungkin belum buka--belum buka toko dan belum buka mata. *Yah, sebenarnya, sih, si Ayu yang membantu menge-print, saya cuma bantu membangunkan Ayu dan meminjamkan mesin printer-nya sambil asyik masak-masak sendiri di kamar sebelah.*
Dengan ini, sempurna sudah. Kalau meminjam kata-kata Ayu Marayu, "Tahun depan akan benar-benar menjadi tahun yang baru." Meskipun si Afa masih khawatir dengan salah satu nilai mata kuliahnya, tekadnya untuk lulus di tahun 2015 sudah bulat, sebulat telor ayam--agak-agak lonjong sedikit, dong, ya? Itu artinya, tahun depan memang akan menjadi tahun yang baru sebab Afa akan segera beranjak dari Pondok Ganeca dan melanjutkan langkah dalam kehidupannya--seperti halnya Mbak Silvi Marilvi yang sudah lebih dulu berlalu di akhir tahun ini dengan rencana pernikahan di dalam genggamannya. Kemudian mungkin akan diikuti oleh Mbak Ranie Maranie yang sudah memiliki rencana serupa, lalu Ayu Marayu yang akan meninggalkan Indonesia, dan juga saya... Entah kapan tanggal pastinya, yang jelas masing-masing dari kami sudah memiliki gambaran akan melangkahkan kaki meninggalkan pagar depan Pondok Ganeca. Itulah yang terlintas di dalam kepala saya dan--mengingat frekuensi otak kami yang semakin hari semakin serupa--juga di dalam kepala Ayu Marayu pagi ini sehingga lembaran-lembaran skripsi Afa yang tersusun semakin rapi tidak hanya mendatangkan rasa bahagia tetapi juga lara.
Namun, bukankah manusia hanya bisa berencana dan pada akhirnya, hanya Sang Maha yang bisa menentukan segalanya? Jadi, untuk apa berduka sebelum saat yang dikhawatirkan benar-benar tiba? Lebih baik berenang saja dulu di dalam bahagia yang sudah jelas adanya di sini dan hari ini--yah, karena saya tidak bisa berenang, bolehlah mengambang sambil nempel-nempel di pinggir kolam pakai gaya cecak, hehehe.
Selamat atas selesainya draft akhir skripsi Afa! Semoga kami bisa segera melihat dirimu bertoga dengan satu garis biru muda!
Scribbled on DeCielo's desk,
Depok, 22 Desember 2014
