0

Tentang Si Afa dan Tahun yang Akan Datang

Posted by Dizz on 10:06:00 PM in , ,
Dear Readers,

"Si Afa menunggu print out-nya"
Photo taken by Dizz
Pagi ini dimulai dengan saya yang terbangun berkali-kali, menekan tombol snooze pada alarm handphone berkali-kali, dan kembali tidur berkali-kali--khawatir terlelap sempurna dan tidak mendengar ketukan di pintu kamar. Pagi ini adalah pagi yang bersejarah. Bukan. Bukan hanya karena hari ini adalah Hari Ibu. Namun, karena pada hari ini pula akhirnya seorang Afa Marafa (bukan nama sebenarnya) menyelesaikan draft akhir skripsinya. Kemungkinan Afa Marafa bertransformasi menjadi Afa Marafa, S.Psi pun semakin besar--mengikuti Mbak Ranie Maharanie, S.H., Ayu Marayu, S.Psi, dan Mbak Silvi Marilvi, S.Sos. Kami semua adalah bagian dari lingkar pertemanan yang disatukan dalam sebuah pondok bernama Ganeca, di bawah bendera Geng Sawo alias Geng Memeng.

Sebelumnya, kami--well, sebenarnya mungkin cuma saya--sempat khawatir karena tinggal Afa Marafa yang belum menyelesaikan studinya. Dengan gayanya yang santai dan self-esteem contingency Afa yang tampaknya memang tidak terletak di dunia akademik, lulus tepat waktu memang bukan target yang mendesak baginya. Namun, mengingat satu per satu dari kami sudah mulai lulus, bukan hanya dari universitas tercinta, tetapi juga dari Pondok Ganeca, saya tidak ingin Afa melalui masa-masa pengumpulan skripsi, sidang, revisi, dan wisudanya sendiri. Terbayang panik-paniknya, penuh tangisnya, serta haru birunya pengalaman saya setahun yang lalu. Jika saat itu harus dilalui sendirian, saya pun tidak yakin mampu. Oleh sebab itu, hari ini, meskipun harus terbangun berkali-kali, bangun jauh lebih pagi, tidak apa-apa, yang penting bisa membantu si Afa Marafa menge-print draft akhirnya di saat abang-abang fotokopian mungkin belum buka--belum buka toko dan belum buka mata. *Yah, sebenarnya, sih, si Ayu yang membantu menge-print, saya cuma bantu membangunkan Ayu dan meminjamkan mesin printer-nya sambil asyik masak-masak sendiri di kamar sebelah.*

Dengan ini, sempurna sudah. Kalau meminjam kata-kata Ayu Marayu, "Tahun depan akan benar-benar menjadi tahun yang baru." Meskipun si Afa masih khawatir dengan salah satu nilai mata kuliahnya, tekadnya untuk lulus di tahun 2015 sudah bulat, sebulat telor ayam--agak-agak lonjong sedikit, dong, ya? Itu artinya, tahun depan memang akan menjadi tahun yang baru sebab Afa akan segera beranjak dari Pondok Ganeca dan melanjutkan langkah dalam kehidupannya--seperti halnya Mbak Silvi Marilvi yang sudah lebih dulu berlalu di akhir tahun ini dengan rencana pernikahan di dalam genggamannya. Kemudian mungkin akan diikuti oleh Mbak Ranie Maranie yang sudah memiliki rencana serupa, lalu Ayu Marayu yang akan meninggalkan Indonesia, dan juga saya... Entah kapan tanggal pastinya, yang jelas masing-masing dari kami sudah memiliki gambaran akan melangkahkan kaki meninggalkan pagar depan Pondok Ganeca. Itulah yang terlintas di dalam kepala saya dan--mengingat frekuensi otak kami yang semakin hari semakin serupa--juga di dalam kepala Ayu Marayu pagi ini sehingga lembaran-lembaran skripsi Afa yang tersusun semakin rapi tidak hanya mendatangkan rasa bahagia tetapi juga lara.

Namun, bukankah manusia hanya bisa berencana dan pada akhirnya, hanya Sang Maha yang bisa menentukan segalanya? Jadi, untuk apa berduka sebelum saat yang dikhawatirkan benar-benar tiba? Lebih baik berenang saja dulu di dalam bahagia yang sudah jelas adanya di sini dan hari ini--yah, karena saya tidak bisa berenang, bolehlah mengambang sambil nempel-nempel di pinggir kolam pakai gaya cecak, hehehe.

Selamat atas selesainya draft akhir skripsi Afa! Semoga kami bisa segera melihat dirimu bertoga dengan satu garis biru muda!


Scribbled on DeCielo's desk,
Depok, 22 Desember 2014

0

Kisah Seorang Gadis: Seperempat Abad

Posted by Dizz on 5:30:00 PM in , ,
Dear Readers,

Cover depan Kisah Seorang Gadis
Waktu berlalu dan saya, seperti juga manusia lainnya, semakin bertambah tua. Mengapa saya memulai tulisan ini dengan kalimat itu? Yah...karena Tuhan telah berbaik hati memberikan saya hidup hingga tahun ini, tahun di mana saya akhirnya bisa menyebut usia saya dengan hitungan "abad". Ya. Seperempat abad telah berlalu sejak hari di mana Ma'--sebutan saya untuk mama--mendekap saya untuk pertama kalinya. Terima kasih, Tuhan, untuk waktu yang telah Engkau anugerahkan dan segala kenangannya ini. Terima kasih juga, Ma', dan Pa', dan Deydey, Nenek, Kiky, Kak Dar, serta seluruh keluarga yang telah turut merawat dan membesarkan saya hingga saat ini. Terima kasih untuk semua kenalan, teman, dan saudara lain ibu-bapak yang telah mewarnai hari-hari saya hingga sekarang.

Beberapa hari sebelum usia saya genap seperempat abad, saya mencoba menengok ke belakang dan mengingat mimpi-mimpi saya dahulu. Sejak kecil, saya senang membaca segala sesuatu yang mengandung cerita, mulai dari majalah, komik, novel, sampai T-shirt abang-abang yang kebetulan saya lihat di depan sebuah pusat perbelanjaan. Sejak, setidaknya, kelas 5 SD, saya mulai menulis cerita-cerita yang tak kunjung selesai, namun tak pernah malu pula saya tunjukkan ke teman-teman agar mereka membacanya. Pada satu titik dalam hidup saya, ada keinginan untuk menjadi penulis novel termuda di Indonesia... *Yah... Waktu itu memang belum ada seri KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) dari Penerbit Mizan...* Pada titik lainnya, muncul keinginan untuk menerbitkan sepuluh judul buku sebelum usia saya membulat 30. Akan berhasilkah saya untuk mewujudkan keinginan yang satu ini? Mungkin tidak sebab waktu telah lama berlalu sejak saat itu. Namun, semuanya memang masih "mungkin" sebab saya masih memiliki waktu sekitar 5 tahun lagi sebelum deadline yang saya tetapkan untuk diri saya sendiri habis. Jadi, saya pikir, kenapa tidak memulainya dari sekarang? Hitung-hitung, bisa menjadi hadiah ulang tahun untuk diri sendiri, kan?

Setelah mengiyakan pertanyaan yang saya ajukan untuk diri saya sendiri itu, muncul pertanyaan lain: Bagaimana memulainya? Dengan pekerjaan yang menumpuk dan keinginan besar untuk berprokrastinasi dari waktu ke waktu, saya akhirnya tiba pada satu jawaban--atau tepatnya satu pertanyaan lain, yaitu: Bukankah saya sudah punya naskah yang (hampir) siap terbit?

Masih ingat "Kisah Seorang Gadis"? Kalau tidak ingat, saya pernah menuliskan tentangnya di sini. Ya. Karya yang tercipta di tengah himpitan deadline lomba dan keinginan untuk terus berprokrastinasi itu masih tersimpan rapi di laptop saya--yah, walaupun laptopnya sendiri sebenarnya sudah sempat sekarat, mati, lalu bangkit lagi dari kematiannya setelah berganti warna dari merah ke biru muda, dan berganti ukuran dari 10" menjadi 11" koma sekian... Anyway, acuhkan saja racau tak jelas tadi, ya. Mari kembali ke... Bukan. Bukan kembali ke laptop. Saya, kan, bukan Tukul Arwana!

Kembali ke topik, draft cerita itu akhirnya saya gali dari kuburan digitalnya. Saya satukan kembali tulang-belulangnya. Saya desainkan pakaian baru untuk menutupi ketelanjangannya. Saya tambahkan sedikit aksesori di sini-sana. Lalu, saya antarkan ke sebuah agensi bernama Nulisbuku.com untuk memulai debutnya.

Voila! Inilah dia! Hadiah ultah yang saya persembahkan untuk seperempat abad keberadaan saya di dunia. Karya pertama yang dapat dibeli dan dibaca dalam wujud hardcopy layaknya karya para penulis ternama--walau sebenarnya hanya karya saya, seorang pemula, yang menerbitkannya secara self-published pula.

Apa isi ceritanya? Silakan beli dan baca sendiri di sini, ya. Satu-satunya yang akan saya bocorkan adalah: salah satu tokoh dalam cerita ini adalah orang yang hidup dengan skizofrenia! Siapa dia? Selamat membaca... :-)


Scribbled on DeCielo's Desk
Depok, 13 Oktober 2014



Copyright © 2009 Scribbling Dizz All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.