13
FAQ #1 - Apa, Sih, Bedanya Psikolog, Ilmuwan Psikologi, dan Mahasiswa Psikologi?
Dear Readers,
"FAQ" atau "Frequently Ask Question"
ini adalah yang pertama dari serangkaian tulisan yang akan saya buat
berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan kepada saya
dan teman-teman yang berstatus mahasiswa psikologi. Banyaknya pertanyaan
yang berulang dan sangkaan yang keliru membuat saya merasa adanya
urgensi untuk memberikan penjelasan bagi siapapun yang tertarik untuk
membahasnya.
Pertanyaan pertama:
Depok, 25 November 2012
7.12 P.M.
![]() |
| "What" by DeCielo (2014) |
Pertanyaan pertama:
"Apa, sih, bedanya psikolog, ilmuwan psikologi, dan mahasiswa psikologi?"
Oke. Harus saya akui, pertanyaan yang sampai kepada saya tidak
seperti itu formatnya. Biasanya pertanyaan yang muncul lebih seperti, "Kamu anak psikologi? Kalau lulus jadi psikolog, dong?" atau "Kamu anak psikologi, kan? Anak saya normal, tidak, sih?" atau "Kamu bisa, dong, bantu saya mengukur IQ anak-anak? Kamu kan anak psikologi."
Meskipun demikian, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut
memerlukan penjelasan mengenai perbedaan antara psikolog, ilmuwan
psikologi, dan mahasiswa psikologi. Jadi, mari kita bahas satu per satu.
PSIKOLOG
Psikolog adalah satu-satunya orang yang menurut kode etik HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) memiliki hak dan kompetensi yang cukup untuk memberikan jasa psikologi.
Adapun contoh jasa psikologi yang dimaksud, antara lain interpretasi
tes, konseling, dan terapi psikologis. Dulu, seseorang bisa menjadi
psikolog setelah menempuh pendidikan psikologi selama minimal enam (6)
tahun. Namun, saat ini, seseorang baru bisa menjadi psikolog setelah
lulus dari program studi magister profesi psikologi. Dengan kata lain,
lulusan S1 psikologi (S.Psi) dan lulusan S2 psikologi non-profesi (M.Si)
tidak bisa disebut psikolog dan tidak memiliki hak maupun kompetensi
psikolog. Contoh lulusan S2 bergelar psikolog adalah lulusan magister
Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), Psikologi Klinis, Psikologi
Klinis Anak (Psikologi Perkembangan), dan Psikologi Pendidikan.
Sementara contoh lulusan S2 non-profesi (non-psikolog) adalah lulusan
magister Psikologi Terapan (Psikologi Sosial).
Bidang kekhususan tersebut memberikan kompetensi yang berbeda pula.
Psikolog Industri dan Organisasi, misalnya, biasanya bekerja di
perusahaan (umumnya di bagian Human Resource Development) dan memiliki
kompetensi untuk melakukan rekrutmen, seleksi, penempatan, serta
pelatihan sumber daya manusia di perusahaan tersebut. Psikolog Klinis
biasanya berhadapan dengan orang-orang dewasa yang dianggap memiliki
gangguan kejiwaan, namun tidak bisa memberikan resep obat (berbeda
dengan psikiater yang bisa memberi obat). Psikolog Klinis Anak biasanya
berhadapan dengan anak-anak yang dianggap memiliki gangguan
perkembangan. Sementara itu, Psikolog Pendidikan bisa ditemui apabila
seseorang memiliki masalah yang berkaitan dengan proses dan faktor
belajarnya. Jadi, seorang psikolog pun tidak otomatis memiliki
kompetensi untuk kesemua bidang tersebut. Orang dengan masalah yang
berbeda bisa jadi perlu untuk menemui psikolog dengan bidang kekhususan
yang berbeda pula.
ILMUWAN PSIKOLOGI
Ilmuwan psikologi adalah semua lulusan S1 psikologi atau S2 psikologi non-profesi. Karena tidak memiliki gelar psikolog,
ilmuwan psikologi tidak berhak dan tidak memiliki kompetensi untuk
memberi jasa psikologi. Mereka boleh terlibat dalam pemberian tes
psikologis, namun hanya sebatas administrasi tes saja, atau paling jauh
penghitungan skor, bukan interpretasi hasil. Meskipun demikian, ilmuwan
psikologi adalah orang-orang yang mampu dan berjasa dalam melakukan
penelitian di bidang psikologi. Hasil-hasil penelitian mereka bisa
dibaca oleh banyak orang melalui publikasi jurnal ilmiah. Jurnal ilmiah
ini ada yang berbentuk buku (hardcopy) dan ada pula yang berbentuk
kumpulan artikel jurnal di internet (softcopy). Dari hasil-hasil
penelitian yang telah dipublikasikan, kita bisa mengetahui hal-hal
menarik, misalnya: ternyata profile facebook bisa menunjukkan sejumlah
ciri kepribadian seseorang, atau ternyata kecenderungan orang untuk
memilih dalam pemilihan umum bisa dilihat dari penampilan fisik
kandidatnya, atau ternyata akhiran "99" pada tampilan harga bisa membuat
seseorang mempersepsikan harga suatu barang lebih murah daripada
kenyataannya. Hasil-hasil penelitian seperti ini bisa dimanfaatkan dalam
berbagai bidang, seperti penetapan kebijakan pemerintah, peningkatan
penjualan produk suatu perusahaan, serta membantu para psikolog dalam
melakukan pekerjaannya. Sebagai tambahan, ilmuwan psikologi lulusan
program magister perilaku terapan juga bisa memberikan intervensi
terhadap komunitas dalam usaha memecahkan masalah-masalah sosial yang
ada, misalnya intervensi untuk mendamaikan dua pihak yang berkonflik.
MAHASISWA PSIKOLOGI
Mahasiswa psikologi adalah semua orang yang tengah menempuh
pendidikan psikologi, baik program sarjana (S1) maupun program magister
(S2). Mengingat bahwa lulusan S1 psikologi sudah termasuk ilmuwan
psikologi, saya akan mengkhususkan pembahasan ini pada mahasiswa S1
psikologi saja. Apa, sih, yang diperoleh mahasiswa S1 psikologi? Kami
(mengingat saya saat ini masih termasuk di dalamnya), mempelajari
berbagai pengetahuan dasar dari berbagai bidang psikologi, baik
psikologi klinis, perkembangan, industri dan organisasi, pendidikan,
sosial, maupun eksperimen. Karena kami hanya mempelajari dasarnya saja,
apa yang kami ketahui bisa kami bagi namun tidak bisa digunakan untuk
menilai, apalagi membuat diagnosis atau prediksi mengenai apa yang
terjadi pada seseorang atau sekelompok orang. Kompetensi di bidang
metodologi penelitian dan statistika adalah salah satu hal yang paling
penting dipelajari mengingat mahasiswa S1 psikologi disiapkan untuk
menjadi ilmuwan psikologi, bukan psikolog. Kami dibekali berbagai
pengetahuan dasar mengenai berbagai alat tes, namun lebih kepada jenis,
kegunaan, penyusun, tahun penyusunan, contoh item, dan cara
administrasi. Kalaupun kami diberi sedikit pengetahuan mengenai cara
penghitungan skor dan interpretasi, kami tetap belum memiliki hak dan
kompetensi yang cukup untuk melakukan itu. Di beberapa universitas,
mahasiswa S1 psikologi diberi pengetahuan lebih banyak mengenai tes,
cara penghitungan skor, dan interpretasi hasil. Meskipun demikian,
seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, mahasiswa S1 psikologi
tetap tidak memiliki hak maupun kompetensi yang cukup untuk
melakukannya. Jadi, apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa S1 psikologi?
Kami dapat membantu seseorang melakukan pengambilan data, sebatas
administrasi tes atau alat ukur lain, atau membantu melakukan wawancara
dan observasi, atau membantu meng-entry data, namun yang paling mampu
kami lakukan adalah memberi rujukan ke mana seseorang harus pergi atau
siapa yang bisa dihubungi bila seseorang atau keluarga dan kerabatnya
membutuhkan jasa psikologi.
Sebagai kesimpulan, saya akan mengatakan bahwa jika kita bertemu atau
mengenal mahasiswa psikologi atau ilmuwan psikologi, harap jangan
memintanya untuk membaca kepribadian kita, memberi solusi untuk gangguan
perkembangan anak atau masalah kita, apalagi melakukan dan
menginterpretasi skor tes psikologi untuk kita. Untuk hal-hal seperti
itu, kita membutuhkan bantuan seorang psikolog.Semoga membantu.
7.12 P.M.
p.s.: Kalau ternyata dalam penjelasan saya ada yang kurang atau
salah, jangan merasa ragu untuk menambahkan dan memberi komentar, ya :-)
