13

FAQ #1 - Apa, Sih, Bedanya Psikolog, Ilmuwan Psikologi, dan Mahasiswa Psikologi?

Posted by Dizz on 7:15:00 PM in ,
Dear Readers,


"What" by DeCielo (2014)
"FAQ" atau "Frequently Ask Question" ini adalah yang pertama dari serangkaian tulisan yang akan saya buat berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan kepada saya dan teman-teman yang berstatus mahasiswa psikologi. Banyaknya pertanyaan yang berulang dan sangkaan yang keliru membuat saya merasa adanya urgensi untuk memberikan penjelasan bagi siapapun yang tertarik untuk membahasnya.

Pertanyaan pertama:

"Apa, sih, bedanya psikolog, ilmuwan psikologi, dan mahasiswa psikologi?"




Oke. Harus saya akui, pertanyaan yang sampai kepada saya tidak seperti itu formatnya. Biasanya pertanyaan yang muncul lebih seperti, "Kamu anak psikologi? Kalau lulus jadi psikolog, dong?" atau "Kamu anak psikologi, kan? Anak saya normal, tidak, sih?" atau "Kamu bisa, dong, bantu saya mengukur IQ anak-anak? Kamu kan anak psikologi." Meskipun demikian, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut memerlukan penjelasan mengenai perbedaan antara psikolog, ilmuwan psikologi, dan mahasiswa psikologi. Jadi, mari kita bahas satu per satu.


PSIKOLOG

Psikolog adalah satu-satunya orang yang menurut kode etik HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) memiliki hak dan kompetensi yang cukup untuk memberikan jasa psikologi. Adapun contoh jasa psikologi yang dimaksud, antara lain interpretasi tes, konseling, dan terapi psikologis. Dulu, seseorang bisa menjadi psikolog setelah menempuh pendidikan psikologi selama minimal enam (6) tahun. Namun, saat ini, seseorang baru bisa menjadi psikolog setelah lulus dari program studi magister profesi psikologi. Dengan kata lain, lulusan S1 psikologi (S.Psi) dan lulusan S2 psikologi non-profesi (M.Si) tidak bisa disebut psikolog dan tidak memiliki hak maupun kompetensi psikolog. Contoh lulusan S2 bergelar psikolog adalah lulusan magister Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), Psikologi Klinis, Psikologi Klinis Anak (Psikologi Perkembangan), dan Psikologi Pendidikan. Sementara contoh lulusan S2 non-profesi (non-psikolog) adalah lulusan magister Psikologi Terapan (Psikologi Sosial).

Bidang kekhususan tersebut memberikan kompetensi yang berbeda pula. Psikolog Industri dan Organisasi, misalnya, biasanya bekerja di perusahaan (umumnya di bagian Human Resource Development) dan memiliki kompetensi untuk melakukan rekrutmen, seleksi, penempatan, serta pelatihan sumber daya manusia di perusahaan tersebut. Psikolog Klinis biasanya berhadapan dengan orang-orang dewasa yang dianggap memiliki gangguan kejiwaan, namun tidak bisa memberikan resep obat (berbeda dengan psikiater yang bisa memberi obat). Psikolog Klinis Anak biasanya berhadapan dengan anak-anak yang dianggap memiliki gangguan perkembangan. Sementara itu, Psikolog Pendidikan bisa ditemui apabila seseorang memiliki masalah yang berkaitan dengan proses dan faktor belajarnya. Jadi, seorang psikolog pun tidak otomatis memiliki kompetensi untuk kesemua bidang tersebut. Orang dengan masalah yang berbeda bisa jadi perlu untuk menemui psikolog dengan bidang kekhususan yang berbeda pula.


ILMUWAN PSIKOLOGI

Ilmuwan psikologi adalah semua lulusan S1 psikologi atau S2 psikologi non-profesi. Karena tidak memiliki gelar psikolog, ilmuwan psikologi tidak berhak dan tidak memiliki kompetensi untuk memberi jasa psikologi. Mereka boleh terlibat dalam pemberian tes psikologis, namun hanya sebatas administrasi tes saja, atau paling jauh penghitungan skor, bukan interpretasi hasil. Meskipun demikian, ilmuwan psikologi adalah orang-orang yang mampu dan berjasa dalam melakukan penelitian di bidang psikologi. Hasil-hasil penelitian mereka bisa dibaca oleh banyak orang melalui publikasi jurnal ilmiah. Jurnal ilmiah ini ada yang berbentuk buku (hardcopy) dan ada pula yang berbentuk kumpulan artikel jurnal di internet (softcopy). Dari hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan, kita bisa mengetahui hal-hal menarik, misalnya: ternyata profile facebook bisa menunjukkan sejumlah ciri kepribadian seseorang, atau ternyata kecenderungan orang untuk memilih dalam  pemilihan umum bisa dilihat dari penampilan fisik kandidatnya, atau ternyata akhiran "99" pada tampilan harga bisa membuat seseorang mempersepsikan harga suatu barang lebih murah daripada kenyataannya. Hasil-hasil penelitian seperti ini bisa dimanfaatkan dalam berbagai bidang, seperti penetapan kebijakan pemerintah, peningkatan penjualan produk suatu perusahaan, serta membantu para psikolog dalam melakukan pekerjaannya. Sebagai tambahan, ilmuwan psikologi lulusan program magister perilaku terapan juga bisa memberikan intervensi terhadap komunitas dalam usaha memecahkan masalah-masalah sosial yang ada, misalnya intervensi untuk mendamaikan dua pihak yang berkonflik.


MAHASISWA PSIKOLOGI

Mahasiswa psikologi adalah semua orang yang tengah menempuh pendidikan psikologi, baik program sarjana (S1) maupun program magister (S2). Mengingat bahwa lulusan S1 psikologi sudah termasuk ilmuwan psikologi, saya akan mengkhususkan pembahasan ini pada mahasiswa S1 psikologi saja. Apa, sih, yang diperoleh mahasiswa S1 psikologi? Kami (mengingat saya saat ini masih termasuk di dalamnya), mempelajari berbagai pengetahuan dasar dari berbagai bidang psikologi, baik psikologi klinis, perkembangan, industri dan organisasi, pendidikan, sosial, maupun eksperimen. Karena kami hanya mempelajari dasarnya saja, apa yang kami ketahui bisa kami bagi namun tidak bisa digunakan untuk menilai, apalagi membuat diagnosis atau prediksi mengenai apa yang terjadi pada seseorang atau sekelompok orang. Kompetensi di bidang metodologi penelitian dan statistika adalah salah satu hal yang paling penting dipelajari mengingat mahasiswa S1 psikologi disiapkan untuk menjadi ilmuwan psikologi, bukan psikolog. Kami dibekali berbagai pengetahuan dasar mengenai berbagai alat tes, namun lebih kepada jenis, kegunaan, penyusun, tahun penyusunan, contoh item, dan cara administrasi. Kalaupun kami diberi sedikit pengetahuan mengenai cara penghitungan skor dan interpretasi, kami tetap belum memiliki hak dan kompetensi yang cukup untuk melakukan itu. Di beberapa universitas, mahasiswa S1 psikologi diberi pengetahuan lebih banyak mengenai tes, cara penghitungan skor, dan interpretasi hasil. Meskipun demikian, seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, mahasiswa S1 psikologi tetap tidak memiliki hak maupun kompetensi yang cukup untuk melakukannya. Jadi, apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa S1 psikologi? Kami dapat membantu seseorang melakukan pengambilan data, sebatas administrasi tes atau alat ukur lain, atau membantu melakukan wawancara dan observasi, atau membantu meng-entry data, namun yang paling mampu kami lakukan adalah memberi rujukan ke mana seseorang harus pergi atau siapa yang bisa dihubungi bila seseorang atau keluarga dan kerabatnya membutuhkan jasa psikologi.

Sebagai kesimpulan, saya akan mengatakan bahwa jika kita bertemu atau mengenal mahasiswa psikologi atau ilmuwan psikologi, harap jangan memintanya untuk membaca kepribadian kita, memberi solusi untuk gangguan perkembangan anak atau masalah kita, apalagi melakukan dan menginterpretasi skor tes psikologi untuk kita. Untuk hal-hal seperti itu, kita membutuhkan bantuan seorang psikolog.Semoga membantu.



Depok, 25 November 2012
7.12 P.M.
  

p.s.: Kalau ternyata dalam penjelasan saya ada yang kurang atau salah, jangan merasa ragu untuk menambahkan dan memberi komentar, ya :-)

Copyright © 2009 Scribbling Dizz All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.