0

Kantong Plastik: Opt-Out atau Opt In?

Posted by Dizz on 6:55:00 PM in ,
Dear Readers,

"Kresek Jumping" by Dizz (2016)
Sudah sejak beberapa bulan yang lalu saya mencoba mengurangi penggunaan kantong plastik a.k.a kresek. Kalau belanja di minimarket dan masih bisa masuk tas, walaupun Mbaknya sudah terlanjur memasukkan belanjaan ke kresek, saya akan bilang, "Tidak usah pakai kantong plastik, Mbak," (sambil senyum, jadi Mbaknya senyum juga walaupun harus mengeluarkan lagi, hehehe). Upaya ini memang belum bisa mengurangi penggunaan kantong plastik saya sepenuhnya, apalagi saat belanja bulanan atau saat beli minuman dingin dan saya tidak mau tas menjadi basah. Oleh sebab itu, sebagai langkah selanjutnya, bulan kemarin saya membeli tas kain yang agak besar untuk dibawa saat belanja bulanan. Kalau untuk sehari-hari, saya berusaha membawa tas kain kecil hasil dapat gratisan dari seminar/konferensi. Jadi, tas tersebut bisa dilipat, tetap tipis, dan bisa masuk kantong atau tas tetapi tidak berat ataupun makan tempat (tidak keluar uang juga karena gratisan, hehehe).

*Eh, ini bukan maksud riya', ya. Saya cuma mau sharing cerita untuk menunjukkan bahwa kebiasaan ini bisa berhasil dibentuk, asalkan memang diniatkan dan diulang-ulang... Buktinya, sekarang saya bingung mau cari kresek di mana untuk alas tempat sampah di kost-an, hehehe...

Karena sudah mencoba membiasakan hal tersebut, saya tenang-tenang saja ketika membaca berita bahwa, mulai bulan Februari 2016 ini, di sejumlah kota sudah dilaksanakan penggunaan kantong plastik berbayar. Maksudnya, kalau berbelanja, utamanya di minimarket dan toko swalayan besar, kantong plastiknya tidak lagi gratis seperti biasa. Harga yang dikenakan untuk satu kantong plastik bisa berbeda-beda tergantung tempatnya. Kalau tidak salah, di DKI Jakarta harganya sekitar Rp2.000,00 per kantong, sedangkan di Bekasi Rp200,00--entah kalau di Depok berapa. Harga ini, utamanya harga yang berlaku di Bekasi, dianggap terlalu murah oleh sejumlah orang. Kalau beli sepuluh kantong pun, pertambahan harga belanjaannya tidak akan berasa. Oleh sebab itu, mereka pesimis pemberlakuannya akan mengurangi penggunaan kantong plastik.

*Kalau saya pribadi, sih, berpikir: siapa juga yang mau beli sampai sepuluh atau berpuluh-puluh kantong di minimarket? Kalau memang butuh banyak, mending beli sebungkus sekalian di toko plastik. Mungkin dengan begitu, harganya jadi jauh lebih murah, hehehe...

Saya pikir, isu utamanya memang bukan uang tetapi kelestarian lingkungan. Masalah kantong kresek itu bukan sekedar di "berapa banyak jumlah yang dibuang" setiap hari, melainkan juga "di mana dibuangnya" setiap hari. Saya sering sekali melihat orang yang setelah pakai, kreseknya dibuang begitu saja sambil jalan atau dibuang ke luar jendela kendaraan atau dibuang di kolong angkot saat orangnya sedang naik angkot--ini juga berlaku untuk sampah lainnya. Ironisnya, orang-orang yang melakukan ini biasanya juga termasuk orang-orang yang mengeluhkan kenapa kota-kota (dan desa-desa) di Indonesia kotor, tidak bisa seperti di luar negeri, atau kenapa banjir, kok, menjadi langganan setiap tahun.

Adapun ini menjadi isu uang (tepatnya harga) kemungkinan karena masih banyak orang yang menganggap bahwa dengan dikenakan biaya, konsumen akan berpikir dua kali untuk menggunakan sesuatu. Padahal, saya pikir, masalahnya ada di kebiasaan dan kemudahan (convenience), bukan di biayanya--setidaknya untuk barang-barang dengan nominal harga yang dianggap murah dan sangat murah. Oleh sebab itu, untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan menggunakan kantong plastik ini, selain lewat penetapan harga dan sosialisasi, kita perlu memikirkan mekanismenya: "opt-out" atau "opt-in"?

"Opt-out" artinya: kalau kita tidak bilang apa-apa, otomatis kita akan diberi kresek. Contohnya seperti cerita saya soal Mbak-Mbak minimarket yang langsung membungkus belanjaan tadi atau seperti Abang-Abang penjual crepes yang langsung memasukkan pesanan dalam kotak kalau kita memesannya untuk take-away--padahal ternyata kotaknya di-charge Rp500. Kalau begini, biasanya kita tidak sadar sudah dikenakan tambahan biaya untuk kemasan dan, kalaupun sadar, sudah terlanjur atau merasa tidak masalah--sebab penambahannya cenderung kecil.

"Opt-in" artinya: kalau kita tidak bilang apa-apa, otomatis kita tidak diberi kresek. Ini saya alami ketika ke Taiwan tahun kemarin (cieee... hehehe). Ketika berbelanja di minimarket, walaupun barangnya banyak, saya tidak diberi kantong plastik. Saya awalnya bingung. Ketika saya belanja di minimarket untuk kesekian kalinya, akhirnya saya bertanya apakah ada kresek. Ternyata kasirnya menjawab ada tetapi akan dikenakan charge (kalau tidak salah 50 sen per kantong). Ketika saya bilang tidak apa-apa, barulah kresek itu diberikan dan saya membayar.

Menurut saya pribadi, cara opt-in ini lebih efektif kalau kita mau mengurangi penggunaan kantong plastik. Mengapa? Sebab kita harus bertanya dulu dan dengan sadar memilih apakah mau membayar untuk kresek atau tidak. Kerepotan untuk bertanya dan memproses informasi itu cenderung akan membuat kita lebih enggan untuk memakai kantong kresek.

However, ini pendapat saya saja, ya. Dalam implementasi yang sebenarnya, keputusan yang diambil bisa saja berbeda tergantung preferensi orangnya, jumlah barang belanjaannya, ada tidaknya alternatif untuk kantong plastik, dan sebagainya. Meskipun demikian, tidak ada salahnya untuk dicoba. Setidaknya, pemerintah di daerah-daerah yang memberlakukan aturan kantong plastik berbayar mungkin bisa melakukan penelitian atau menentukan masa percobaan terkait hal ini untuk melihat mana yang lebih efektif. After all, kalau tujuannya memang mengurangi penggunaan kantong plastik, kita memang perlu menerapkan mekanisme yang terbaik, bukan?

Ayo, Readers. Mari ikut mengurangi penggunaan kantong plastik... :-) !


Scribbled on DeCielo's desk,
Jakarta, 24 Februari 2016

0

Yang Telah Terlewati

Posted by Dizz on 3:42:00 AM in , ,
Dear Readers,

"Dari Balkon Pondok Ganeca" taken by Dizz






Tak terasa--bohong, sebenarnya terasa sekali--waktu telah lama sekali berlalu. Tanggal 22 Desember 2014. Lalu, setelah itu, tidak ada tulisan baru lagi. Ketika akhirnya membuka kembali laman ini, saya hanya bisa tersenyum miris. Ternyata, sepanjang tahun 2015, saya tidak menulis sama sekali--setidaknya, tidak di laman blog ini. Anehnya, jumlah pengunjung tetap bertambah. Mungkin karena tulisan saya yang ini.

Apapun alasannya, sepertinya saya berutang pada Readers yang tetap setia menengok laman ini sesekali--lalu merasa kecewa karena sama sekali tidak ada yang berganti. Oleh sebab itu, biarkanlah saya bercerita sedikit tentang apa saja yang telah terjadi selama ini. Ya. Ada banyak hal yang terjadi. Mungkin terlalu banyak hingga, selama satu tahun, saya enggan untuk menulis dan membuatnya terpublikasi.

Tulisan terakhir di blog ini adalah tentang Si Afa yang akhirnya menyelesaikan dan mengumpulkan skripsinya. Lalu, ada sedikit cerita tentang rencana para penghuni Pondok Ganeca akan masa depannya. Siapa sangka, tulisan itu seolah menjadi prediksi tingkat dewa.

Ya. Tahun 2015 memang menjadi tahun yang baru bagi kami semua. Banyak sekali hal yang berubah.

Ayu Marayu sudah berhasil meraih salah satu mimpinya. Meskipun sempat ragu, di pertengahan tahun 2015, dia lulus seleksi masuk program studi S2 di dua universitas yang berbeda--universitas negeri tetangga (jauh) dan universitas almamater di Indonesia. Karena keterbatasan dana dan almamater tidak menawarkan beasiswa, Ayu Marayu pun memilih untuk melanglang buana. Saat tulisan ini dibuat, dia telah menyelesaikan semester pertamanya di salah satu universitas bergengsi di Korea.

Mbak Silvi Marilvi benar menikah. Saya cukup beruntung bisa menghadiri pernikahannya di Surabaya--thanks to waktu yang (agak dipaksakan) lowong dan pendanaan dari kawan-kawan Geng Memeng yang lainnya. Perjalanan kereta yang totalnya lebih dari 24 jam bolak-balik (Jakarta-Surabaya-Jakarta) menjadi petualangan tersendiri bagi saya.

Afa Marafa lulus sidang dan sudah diwisuda. Tidak lama setelahnya, ia langsung mendapatkan pekerjaan impian dengan atasan yang pengasih lagi penyayang, kawan-kawan kantor yang menyenangkan, serta gaji yang lumayan--maksudnya lumayan jauh di atas kami-kami yang sudah kerja duluan... XDD. Apa daya, prestasi kerjanya yang memuaskan justru membuat si Afa dibujuk untuk pindah ke kantor rekanan. Dengan berbagai pertimbangan, si Afa pun mengiyakan. Namun, setelah beberapa hari menjalani, dia baru menyadari bahwa pindah dari perusahaan profit ke NGO ternyata membawa banyak perubahan. Untuk memenuhi tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya untuk berkunjung dari satu tempat ke tempat lainnya, si Afa pun memutuskan untuk pindah kost-an.

Lalu, bagaimana dengan saya dan Mbak Ranie Maharanie? Kami masih di sini. Di Pondok Ganeca tercinta. Meskipun renovasi berujung pada kenaikan harga dan bangunan apartemen mulai mencuat di mana-mana, kami tetap setia. Masing-masing masih mengejar mimpi yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Yah, doakan saja semoga segera tercapai, ya. Aamiin.

Kira-kira begitu ceritanya. Mudah-mudahan cukup untuk menebus dosa--karena lama tidak menulis apa-apa. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!


Scribbled on DeCielo's desk,
Depok, 15 Februari 2016

Copyright © 2009 Scribbling Dizz All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.