0
Dua Lusin
Dear Readers,
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya pernah membayangkan bahwa saya akan lulus kuliah di usia dua puluh dua, memiliki pekerjaan yang baik, serta menjadi seseorang yang dikenal dan mengenal semua orang di seluruh dunia. Jadi, di usia dua lusin ini seharusnya saya sudah bisa mandiri, baik secara fisik maupun finansial, serta sudah "jadi orang"--mengutip kata-kata nenek saya dulu. Pada kenyataannya, saya baru bisa lulus dari bangku kuliah sekitar tujuh bulan yang lalu. Jadi, sudah seperti apa saya sekarang?
Alhamdulillah.
Saya belum menjadi siapa-siapa. Namun, setidaknya, orangtua sudah tidak perlu lagi membayar uang kuliah saya. Setelah empat setengah tahun, Ma' dan Pa' sudah bisa bernapas sedikit lebih lega. Saya belum mandiri secara finansial. Namun, setidaknya saya sudah beberapa tahun tinggal jauh dari keluarga dan mengambil berbagai keputusan sendiri. Saya juga diberkahi dengan pekerjaan di tempat yang nyaman, di sekeliling orang-orang yang menyenangkan, serta memungkinkan saya untuk menolong orang lain yang bahkan belum saya kenal. Ya. Saya memang belum dikenal dan mengenal semua orang di seluruh dunia. Namun, ada cukup banyak orang di berbagai negara yang bisa mengaku dikenal dan mengenal saya--dan saya beruntung karena sebagian dari mereka mau mengaku atau setidaknya menunjukkan bahwa mereka menyayangi saya.
Ya. Saya memang belum "jadi orang". Namun, saya sudah berada di tengah proses untuk mewujudkannya.
Mohon doa, ya, Readers. Mudah-mudahan saya sudah bisa mencapai segala cita-cita sebelum selusin usia selanjutnya... :-)
Scribbled on DeCielo's Desk
Depok, 30 September 2013
p.s.:
Dua lusin.
![]() |
| Photo taken by: Ayu R. Yolandasari |
Itulah besaran angka yang digenapkan waktu untuk saya hari ini. Ya. Dua puluh empat. Untuk Tuhan dan semua malaikat di langit sana, semua itu mungkin hanya sekejap mata--atau bahkan kurang. Namun, bagi saya, dua puluh empat tahun adalah waktu yang sangat lama. Peristiwa yang terjadi sejak saya pertama kali menyapa dunia dengan tangis dan airmata hingga saat ini sudah jauh lebih banyak dari yang mampu dipanggil kembali oleh ingatan. Orang-orang yang saya temui, baik yang akhirnya menjadi kenalan, teman, sahabat, atau sekedar orang asing yang tanpa sengaja bersitatap mata, sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Ya. Dua puluh empat adalah waktu yang sangat lama bagi saya.
Lalu, apa saja yang telah saya capai dalam waktu yang lama itu?
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya pernah membayangkan bahwa saya akan lulus kuliah di usia dua puluh dua, memiliki pekerjaan yang baik, serta menjadi seseorang yang dikenal dan mengenal semua orang di seluruh dunia. Jadi, di usia dua lusin ini seharusnya saya sudah bisa mandiri, baik secara fisik maupun finansial, serta sudah "jadi orang"--mengutip kata-kata nenek saya dulu. Pada kenyataannya, saya baru bisa lulus dari bangku kuliah sekitar tujuh bulan yang lalu. Jadi, sudah seperti apa saya sekarang?
Alhamdulillah.
Saya belum menjadi siapa-siapa. Namun, setidaknya, orangtua sudah tidak perlu lagi membayar uang kuliah saya. Setelah empat setengah tahun, Ma' dan Pa' sudah bisa bernapas sedikit lebih lega. Saya belum mandiri secara finansial. Namun, setidaknya saya sudah beberapa tahun tinggal jauh dari keluarga dan mengambil berbagai keputusan sendiri. Saya juga diberkahi dengan pekerjaan di tempat yang nyaman, di sekeliling orang-orang yang menyenangkan, serta memungkinkan saya untuk menolong orang lain yang bahkan belum saya kenal. Ya. Saya memang belum dikenal dan mengenal semua orang di seluruh dunia. Namun, ada cukup banyak orang di berbagai negara yang bisa mengaku dikenal dan mengenal saya--dan saya beruntung karena sebagian dari mereka mau mengaku atau setidaknya menunjukkan bahwa mereka menyayangi saya.
Ya. Saya memang belum "jadi orang". Namun, saya sudah berada di tengah proses untuk mewujudkannya.
Mohon doa, ya, Readers. Mudah-mudahan saya sudah bisa mencapai segala cita-cita sebelum selusin usia selanjutnya... :-)
Scribbled on DeCielo's Desk
Depok, 30 September 2013
p.s.:
- I donated some blood today, and it felt so nice to have a chance in celebrating a birthday in such a positive way... :-)
- Thank you for all friends, relatives, and family for wishing me a happy birthday, praying for great things for me... :-)
- Thanks for my family, Ayu, Afa, Mbak Ranie, Mbak Silvi, Tita, and Panca for the birthday gifts... :-)
