0

Menghitung Berkah

Posted by Dizz on 11:36:00 PM in ,
Dear Readers,

"Counting My Blessings" by Dizz (2014)
Seseorang yang saya kenal pernah berkata bahwa di dalam agamanya, setiap orang diajarkan untuk menghitung berkah yang telah ia peroleh manakala dirinya mengalami suatu kesulitan atau musibah. Dengan menghitung berkah, orang tersebut akan menyadari banyaknya berkah yang pernah ia terima, betapa besar kasih Tuhan pada dirinya, dan kesulitan yang sedang dihadapinya tidak seberapa dibandingkan dengan semua itu.

Tidak. Saya tidak sedang mengalami kesulitan. Namun, karena tahun yang baru akan datang dalam waktu kurang dari satu jam lagi, saya pikir, ada baiknya saya menghitung berkah yang telah saya terima di sepanjang tahun 2013 ini.

Terima kasih Tuhan karena atas seizin-Mu, di tahun 2013 ini, saya:
  1. Berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Psikologi dan merasakan haru ketika akhirnya kedua orangtua saya dapat melihat saya mengenakan toga bergaris biru muda di Balairung universitas.
  2. Bisa memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang ilmu yang saya minati, serta memungkinkan saya untuk membantu orang lain dan sedikit mengurangi beban orangtua yang telah membiayai kehidupan saya selama ini.
  3. Bisa memiliki atasan dan rekan kerja yang baik dan menyenangkan.
  4. Memperoleh kesempatan untuk bertemu dan berbagi informasi dengan para pejuang hak asasi manusia dari berbagai kota, bahkan berbagai negara.
  5. Memperoleh kesempatan untuk belajar bahasa Inggris lagi tanpa mengeluarkan biaya.
  6. Menyelesaikan draft pertama untuk lebih dari satu judul cerita.
  7. Mampu melalui ulang tahun saya yang kedua puluh empat dan masih bernapas hingga saat ini.
  8. Masih memiliki keluarga, sahabat, dan teman-teman yang menyayangi saya.

Saya yakin bahwa berkah yang telah saya terima sebenarnya jauh lebih banyak daripada yang mampu saya ingat, hitung, dan tuliskan di sini. After all, Tuhan telah memberi saya berkah yang tak terhitung banyaknya. Namun, sedikit yang mampu saya tuliskan tersebut adalah berkah-berkah besar yang membuat saya sadar betapa saya sangat beruntung dan sangat dicintai. Mudah-mudahan semua berkah tersebut dapat menguatkan saya dalam menghadapi segala susah-senang yang mungkin terjadi di tahun yang akan datang.

Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Readers.


Selamat Tahun Baru 2014... :-) !



Scribbled on DeCielo's Desk
Depok, 31 Desember 2013




0

Dua Lusin

Posted by Dizz on 12:06:00 AM in ,
Dear Readers,

Dua lusin.

Photo taken by: Ayu R. Yolandasari
Itulah besaran angka yang digenapkan waktu untuk saya hari ini. Ya. Dua puluh empat. Untuk Tuhan dan semua malaikat di langit sana, semua itu mungkin hanya sekejap mata--atau bahkan kurang. Namun, bagi saya, dua puluh empat tahun adalah waktu yang sangat lama. Peristiwa yang terjadi sejak saya pertama kali menyapa dunia dengan tangis dan airmata hingga saat ini sudah jauh lebih banyak dari yang mampu dipanggil kembali oleh ingatan. Orang-orang yang saya temui, baik yang akhirnya menjadi kenalan, teman, sahabat, atau sekedar orang asing yang tanpa sengaja bersitatap mata, sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Ya. Dua puluh empat adalah waktu yang sangat lama bagi saya.

 

Lalu, apa saja yang telah saya capai dalam waktu yang lama itu?

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya pernah membayangkan bahwa saya akan lulus kuliah di usia dua puluh dua, memiliki pekerjaan yang baik, serta menjadi seseorang yang dikenal dan mengenal semua orang di seluruh dunia. Jadi, di usia dua lusin ini seharusnya saya sudah bisa mandiri, baik secara fisik maupun finansial, serta sudah "jadi orang"--mengutip kata-kata nenek saya dulu. Pada kenyataannya, saya baru bisa lulus dari bangku kuliah sekitar tujuh bulan yang lalu. Jadi, sudah seperti apa saya sekarang?

Alhamdulillah.

Saya belum menjadi siapa-siapa. Namun, setidaknya, orangtua sudah tidak perlu lagi membayar uang kuliah saya. Setelah empat setengah tahun, Ma' dan Pa' sudah bisa bernapas sedikit lebih lega. Saya belum mandiri secara finansial. Namun, setidaknya saya sudah beberapa tahun tinggal jauh dari keluarga dan mengambil berbagai keputusan sendiri. Saya juga diberkahi dengan pekerjaan di tempat yang nyaman, di sekeliling orang-orang yang menyenangkan, serta memungkinkan saya untuk menolong orang lain yang bahkan belum saya kenal. Ya. Saya memang belum dikenal dan mengenal semua orang di seluruh dunia. Namun, ada cukup banyak orang di berbagai negara yang bisa mengaku dikenal dan mengenal saya--dan saya beruntung karena sebagian dari mereka mau mengaku atau setidaknya menunjukkan bahwa mereka menyayangi saya.

Ya. Saya memang belum "jadi orang". Namun, saya sudah berada di tengah proses untuk mewujudkannya.

Mohon doa, ya, Readers. Mudah-mudahan saya sudah bisa mencapai segala cita-cita sebelum selusin usia selanjutnya... :-)

Scribbled on DeCielo's Desk
Depok, 30 September 2013

p.s.:
  • I donated some blood today, and it felt so nice to have a chance in celebrating a birthday in such a positive way... :-)
  • Thank you for all friends, relatives, and family for wishing me a happy birthday, praying for great things for me... :-)
  • Thanks for my family, Ayu, Afa, Mbak Ranie, Mbak Silvi, Tita, and Panca for the birthday gifts... :-)

0

Am I...?

Posted by Dizz on 5:55:00 PM in ,
Dear Readers,
"Am I?" by Dizz (2014)
Wah, akhirnya saya kembali menulis di sini. Sudah sekitar satu setengah bulan berlalu sejak posting saya yan terakhir. Apa kabar buku self-help yang katanya sedang saya buat waktu itu? Hmph. Tidak ada kabarnya. Saya berusaha membuatnya dengan serius sebenarnya. Namun, setelah selesai membuat outline, merencanakan apa saja yang perlu dimasukkan, dan hampir selesai membuat kata pengantar... Saya tiba-tiba kehilangan minat. Yah, memang sejak bulan kemarin ada saja, sih, hal-hal yang perlu saya lakukan atau lebih menarik perhatian saya. Jadi, daripada dipaksakan lalu hasilnya jelek, saya memilih untuk "mengistirahatkan" proyek itu dulu.

*Inilah risikonya jadi prokrastinator yang gampang terdistraksi oleh banyak hal..."-_-)*

Bagaimana dengan HUNTRESS? Baik-baik saja. Saya berencana untuk mengedit format dan layoutnya, lalu mencetak dan menjilid draft pertamanya dulu agar lebih mudah dibaca dan direvisi nantinya. Setelah itu? Setelah itu, ya, akan saya baca ulang, lalu saya tandai bagian mana yang perlu dihilangkan, dielaborasi, diubah, dan sebagainya. Kapan? Nah, ini, nih, pertanyaan yang sulit dijawab, hehehe.

Anyway, dalam petualangan saya di dunia maya, saya banyak melihat penulis muda, dari dalam maupun luar negeri, yang mengepos cerita pendek ataupun cerita bersambungnya di blog pribadi. Dengan begitu, jadi banyak orang yang bisa membaca karya mereka secara gratis.

Huh? Gratis? Rugi, dong?

Kata siapa? Dengan melakukan itu, penulis tetap memperoleh keuntungan. Bukan. Memang bukan dalam bentuk materi atau uang. Namun, dalam bentuk komentar alias feedback langsung dari pembaca sehingga mereka jadi tahu apa yang disukai atau tidak disukai dari karyanya. Apa yang bisa diperbaiki. Karya seperti apa yang disukai banyak orang. Dengan kata lain, cara ini membuat mereka mampu belajar dan berkembang sebelum akhirnya menerbitkan buku secara komersil. Lalu, tentu saja, jika karya mereka memang bagus, cara ini juga memungkinkan penulis untuk memiliki pembaca setia yang menunggu karya-karya barunya, bahkan sebelum karya tersebut dipublikasikan.

Bagaimana kalau ada yang membajak atau melakukan plagiarisme atas karya kita? Bagaimana kalau yang banyak justru kritik?

Ya, tidak apa-apa. Ini adalah tantangan. Ini bahkan bisa dijadikan sarana publikasi karena bahkan komentar buruk sekalipun bisa membuat orang lain penasaran untuk ikut membaca--ikut membuktikan apakah memang karya kita seburuk itu. Lagipula, in my humble opinion, penulis yang baik adalah penulis yang produktif. Jika satu ceritanya dibajak, atau satu ceritanya dikritik habis-habisan, penulis yang baik tidak berhenti, tetapi malah melahirkan lebih banyak karya lain dengan ide-ide yang lebih original dan lebih baik daripada karya sebelumnya.

Pertanyaannya adalah: Apakah saya sendiri cukup berani untuk melakukannya?


Scribbled on DeCielo's Desk
Depok, 22 Juli 2013

0

Nah, Kan...

Posted by Dizz on 12:46:00 PM in ,
Dear Readers,

"Huntress" by DeCielo (2014)
Pengumuman pemenang lomba novel fantasi yang saya ikuti sudah keluar kemarin (3Juni 2013). HUNTRESS tidak menang. Naskah yang saya kirim itu berhasil masuk dalam 15 besar dari 60+ total naskah yang dilombakan. Namun, dia tidak berhasil masuk dalam 3 besar ataupun dalam 4 naskah non-pemenang yang dianggap layak cetak.

Nah, kan...

Terbukti bahwa menulis sebuah novel dalam waktu lima hari itu bukan ide yang bagus. Bisa, sih. Jadi, sih, novelnya. Namun, kualitasnya masih di bawah dibandingkan naskah-naskah buatan orang lain yang mungkin bekerja keras selama berbulan-bulan untuk menulisnya. Jadi, jangan tiru kebiasaan prokrastinasi saya, ya! Hehehe...



Sempat sedih sebenarnya. Sejak awal, saya tidak berpikir HUNTRESS akan menang. Namun, ketika tahu bahwa naskah itu masuk 15 besar, harapan saya naik. Saya tetap tidak berpikir bahwa naskah itu akan masuk 3 besar. Namun, saya semakin berharap bahwa naskah itu akan dianggap layak terbit. Menjadi penulis adalah cita-cita saya sejak kecil. Jadi, melihat tulisan saya bisa diterbitkan menjadi buku dan dipajang di rak toko adalah salah satu hal yang sangat saya harapkan.

However, saya harus lapang dada, kan, ya? Harus berbesar hati dan berani mengakui bahwa karya orang lain memang lebih layak diterbitkan daripada novel lima hari saya. Hehehe...

Ini bukan kali pertama. Sebelumnya saya sudah sering mengikuti lomba menulis--kebanyakan adalah lomba menulis esai atau cerpen, bukan lomba menulis novel. Meskipun ada beberapa yang berhasil menjadi juara, jumlah tulisan saya yang berakhir tanpa menjadi apa-apa justru lebih banyak. Hanya dengan berbesar hati, terus berlatih, dan tidak menyerah lah saya bisa berada di sini hari ini, bukan? Jadi, itulah yang saya lakukan.

Saat ini, saya sedang dalam proses menulis sebuah buku self-help. Nantinya, buku tersebut akan saya terbitkan sendiri melalui salah satu penyedia jasa self-publishing di Indonesia. Lalu, bagaimana dengan HUNTRESS?

Tidak. Saya tidak melupakannya. Bagaimanapun, HUNTRESS adalah novel pertama yang berhasil saya tulis hingga tuntas. Jadi, saya tidak ingin membiarkannya sia-sia. Saya hanya akan membiarkannya beristirahat dulu untuk sementara waktu. Ketika waktunya tiba, saya akan mengeceknya kembali dan mulai melakukan revisi untuk membuatnya menjadi lebih baik. Lalu, setelah itu? Setelah itu, saya akan coba mengirimkan naskah yang telah direvisi itu ke penerbit lain. Kalau ditolak juga? Ya, tidak apa-apa. Jika saat itu tiba, saya hanya akan tersenyum dan mulai menerbitkannya sendiri melalui proses self-publishing. Kalau tidak laku? Ya, tidak apa-apa juga. Sudah nasib itu namanya. Hehehehe....


Scribbled on DeCielo's Desk
Depok, 4 Juni 2013

0

Kisah Seorang Gadis (Prokrastinator Kronis)

Posted by Dizz on 10:12:00 AM in ,
Dear Readers,

"Chronic Procrastinator" by DeCielo (2014)

"Kisah Seorang Gadis" sebenarnya merupakan judul naskah novel yang baru saya selesaikan dan akan saya ikut sertakan dalam sebuah lomba. However, saya sengaja menggunakan judul itu untuk postingan ini karena saya ingin menceritakan sepenggal episode dalam hidup saya. Bagaimanapun, saya juga seorang "gadis", kan? Dan inilah kisah saya...



Saya mendapat ide untuk menulis novel itu sekitar dua bulan yang lalu. Semua ini berawal dari keisengan saya membuka ajangkompetisi.com dan melihat adanya penerbit yang sedang menyelenggarakan lomba menulis novel. Mengingat saya bercita-cita menjadi penulis, saya jadi tertarik untuk mengirimkan naskah novel saya. Masalahnya, waktu itu, saya belum punya satu pun naskah yang bisa dikirimkan! Karya-karya saya yang belum pernah dipublikasikan biasanya berupa cerpen. Itupun sangat sedikit jumlahnya. Kalau ada satu atau dua novel yang sudah sempat saya tulis, bentuknya masih "calon novel". Ya. Calon. Soalnya, saya sering mendapat ide, menulis satu atau dua bab, kemudian berhenti dan tidak pernah melanjutkannya lagi. *Ya, sama seperti yang saya lakukan terhadap blog ini, kan? Hehe...* Padahal,  waktu itu deadline kompetisi ini adalah 30 April 2013. Keinginan saya untuk mengikuti lomba novel yang lain juga menambah kompleksitas keadaan. Kenapa? Karena saat itu sudah awal bulan, dan lomba novel lain itu harus dikirimkan paling lambat tanggal 15!

Jadi, apa yang saya lakukan?

Saya bunuh diri. Atau setidaknya, itu yang sepertinya coba saya lakukan. Saya mencoba menulis sebuah novel dalam waktu lima belas hari. Orang-orang yang mengenal saya tahu, jika saya mencoba mengerjakan sesuatu dalam lima belas hari, itu artinya saya akan menggunakan sepuluh hari pertama untuk prokrastinasi (baca: leyeh-leyeh, jalan-jalan, tidur sampai siang, nonton TV, main game, baca komik, dan segala kegiatan menyenangkan lainnya). Lalu, di lima hari terakhir, dunia nyata akan mengetuk otak saya. Saat itu, saya baru tersadar akan deadline yang semakin dekat, lalu mulai mengetik seperti orang gila (baca: makan kurang, nyaris tidak tidur, dan menangis meraung-raung saat ide mampet). Dan itulah yang benar-benar terjadi waktu itu..."-_-)>

Hasilnya? Saya menyelesaikan "HUNTRESS", naskah novel pertama saya yang bergenre fantasi dan mengirimkannya ke panitia lomba di detik-detik terakhir sebelum deadline. *Untung yang itu hanya perlu dikirim via email..."-_-)* Saat ini, naskah tersebut masih menjalani proses penjurian dan pengumuman pemenang baru akan dipasang di website penerbit terkait pada tanggal 3 Juni 2013.

Apakah saya hebat karena bisa menyelesaikan naskah setebal 80+ halaman dengan tulisan berspasi ganda dalam waktu lima hari?

TIDAK

Ini bukan hal yang untuk dilakukan. Teman-teman di rumah, mohon jangan ditiru, ya. Adegan tersebut dilakukan oleh orang yang sudah terlatih (melalui pengerjaan tugas kuliah dengan cara yang sama selama empat setengah tahun)... Err, seriously, though. Please don't try this at home.

Kenapa? Karena efek sampingnya terlalu berat. Kepala pusing, mata berkunang-kunang, perut keroncongan, tulisan penuh kesalahan pengetikan alias typo, alur cerita ada yang nggak nyambung, daaaaaaan... bisa menyebabkan masa pemulihan berlangsung sangaaaaaat lama.

Ya. Setelah mengerjakan HUNTRESS, saya mengalami kelelahan fisik dan mental. Jadinya, saya beristirahat (baca: kembali berprokrastinasi) selama berhari-hari. Padahal... Ingat, kan, kalau tanggal 30 April (15 hari setelah deadline lomba menulis novel fantasi) adalah deadline untuk kompetisi yang awalnya mau saya ikuti?

Ide cerita untuk kompetisi selanjutnya itu sebenarnya sudah muncul sejak saya mengetik HUNTRESS. Namun, saat itu, saya memprioritaskan naskah yang deadline-nya lebih dekat. Nah, setelah deadline itu lewat, ide cerita tadi tetap saya "peram" dulu sampai matang di dalam otak sambil memulihkan kondisi fisik dan mental (baca: prokrastinasi lagi). Saya pikir, semua akan baik-baik saja kalaupun saya baru mulai menulis sepuluh atau tujuh hari sebelum deadline. Tapi, tahukah kalian apa yang terjadi selanjutnya?

Saya dapat kerjaan.

Ya. Meskipun masih part time, saya akhirnya mendapat pekerjaan dan melepaskan label "Pengacara"--pengangguran banyak acara--dari jidat saya. Masalahnya, kerjaan itu membuat saya sibuk hingga akhir bulan. Alhasil, ketika tanggal 30 April 2013 datang dan saya belum menulis apa-apa, saya cuma bisa bengong sambil menahan rasa ingin menangis. Lalu, iseng-iseng saya membuka website penerbit yang mangadakan kompetisi itu. Daaaan....

Ternyata deadline-nya diundur menjadi 31 Mei 2013!!

Perasaan saya langsung berubah 180 derajat. Rasanya saat itu saya ingin melompat-lompat kegirangan. *Ah... Tuhan memang sering sekali memberi saya cobaan yang enak-enak... Terima kasih, Tuhan...*

Kalian pasti berpikir bahwa saya sudah cukup kapok, kan? Saya pasti segera menulis dan mengubah ide itu menjadi naskah, kan? Yah, harusnya memang begitu, sih... Tapi...

Ya. Saya memang prokrastinator kronis. Jadi, meskipun deadline-nya diundur, ujung-ujungnya, saya baru mengerjakan naskah itu di akhir bulan. Jadilah tadi malam saya begadang lagi sampai pagi untuk menyelesaikan naskah itu agar bisa dikirimkan hari ini (soalnya yang ini harus dikirim dalam bentuk print out).

"Ide cerita" dan "naskah itu" yang saya sebut dari tadi adalah sebuah naskah novel romance setebal 60 halaman dengan tulisan berspasi satu. Tadinya saya mulai menulis naskah ini dengan judul "SENO" sebagai working title. Kenapa? Karena tadinya saya ingin cerita ini berputar di sekitar karakter utama laki-laki yang bernama Seno itu. Namun, seiring perkembangannya, cerita ini malah lebih terkesan berputar di sekitar karakter utama perempuan yang bernama Gadis. Jadilah judulnya saya ganti menjadi "Kisah Seorang Gadis".

Sekarang naskah itu sudah tergeletak di atas meja dalam bentuk print out. Hari ini, Insya Allah naskah itu akan segera saya jilid dan kirim ke alamat penerbitnya. Ya. Segera. Setelah saya menutup mata dan tidur sejenak... hehehe...

Mohon doanya, ya. Mudah-mudahan naskah ini dianggap cukup layak untuk diterbitkan...


Scribbled on DeCielo's Desk
Depok, 30 Mei 2013

p.s.: Tulisan ini nggak seru? Nggak apa-apa. Berdoa saja supaya naskah saya memang dianggap layak terbit, ya. Jadi, nanti kalian bisa membaca cerita yang lebih seru... Setelah membelinya, hehehe...

0

BER-U-BAH!!

Posted by Dizz on 6:00:00 PM in ,
Dear Readers,

Beberapa di antara kalian mungkin membayangkan soundtrack "Ksatria Baja Hitam" dan wajah ganteng Kotaro Minami saat membaca judul tulisan ini. Apa? Tidak? Baiklah. Mungkin cuma saya yang membayangkannya.

Mengapa saya membuat tulisan ini?

Tulisan ini saya buat sebagai penanda. Kalian pasti sudah bisa melihat apa saja yang berubah, kan? Ha? Belum? Oke. Mungkin ini pertama kalinya kalian mengunjungi ke sini. Beberapa pembaca lama mungkin ingat tampilan terdahulu dari ruang ini.

Saat saya membangun ruang ini di tahun 2010, namanya adalah Rojo De Cielo--yang berarti "langit merah". Sesuai namanya, cat yang melapisi ruangan ini dulunya merah menyala dengan gurat oranye. Saya yang saat itu masih menempuh pendidikan di kampus Fakultas Psikologi UI tercinta mencoba menorehkan tulisan secara random tentang hal-hal yang saya pikirkan atau alami sehari-hari. Namun, setelah lima tulisan--seperti layaknya prokrastinator sejati--saya bosan dan membiarkan mereka terbengkalai.

Pada bulan November 2012, saya kembali berkunjung dan mengganti namanya menjadi Dizz is My Blog. Saya juga sempat membuat sebuah tulisan FAQ--Frequently Asked Question--yang tidak kunjung saya buat sekuelnya hingga kini. Namun, saat itu,  ruangan ini masih saya biarkan apa adanya--merah menyala.

Hari ini, setelah berbulan-bulan lamanya, saya kembali memutar kunci dan memasuki pintu ruang maya ini. Setelah berkeliling beberapa saat, saya bisa melihat betapa sepi dan kusamnya ruangan ini. Sudah saatnya saya melakukan renovasi dan mengundang lebih banyak orang untuk berkunjung ke dalamnya.

Jadi, inilah saya, masih dengan random stuff yang akan saya torehkan di sana sini, di antara dinding yang menguarkan wangi cat baru. Silakan masuk. Silakan menarik nafas. Silahkan berkunjung selama yang kalian inginkan. Saya akan selalu ada di sini, masih dengan senyum dan cerita yang sama, di balik meja.

 

Scribbled on DeCielo's Desk,
Depok, 28 Mei 2013

Copyright © 2009 Scribbling Dizz All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.