0
Am I...?
Dear Readers,
![]() |
| "Am I?" by Dizz (2014) |
Wah, akhirnya saya kembali menulis di sini. Sudah sekitar satu setengah bulan berlalu sejak posting saya yan terakhir. Apa kabar buku self-help yang katanya sedang saya buat waktu itu? Hmph. Tidak ada kabarnya. Saya berusaha membuatnya dengan serius sebenarnya. Namun, setelah selesai membuat outline, merencanakan apa saja yang perlu dimasukkan, dan hampir selesai membuat kata pengantar... Saya tiba-tiba kehilangan minat. Yah, memang sejak bulan kemarin ada saja, sih, hal-hal yang perlu saya lakukan atau lebih menarik perhatian saya. Jadi, daripada dipaksakan lalu hasilnya jelek, saya memilih untuk "mengistirahatkan" proyek itu dulu.
*Inilah risikonya jadi prokrastinator yang gampang terdistraksi oleh banyak hal..."-_-)*
Bagaimana dengan HUNTRESS? Baik-baik saja. Saya berencana untuk mengedit format dan layoutnya, lalu mencetak dan menjilid draft pertamanya dulu agar lebih mudah dibaca dan direvisi nantinya. Setelah itu? Setelah itu, ya, akan saya baca ulang, lalu saya tandai bagian mana yang perlu dihilangkan, dielaborasi, diubah, dan sebagainya. Kapan? Nah, ini, nih, pertanyaan yang sulit dijawab, hehehe.
Anyway, dalam petualangan saya di dunia maya, saya banyak melihat penulis muda, dari dalam maupun luar negeri, yang mengepos cerita pendek ataupun cerita bersambungnya di blog pribadi. Dengan begitu, jadi banyak orang yang bisa membaca karya mereka secara gratis.
Huh? Gratis? Rugi, dong?
Kata siapa? Dengan melakukan itu, penulis tetap memperoleh keuntungan. Bukan. Memang bukan dalam bentuk materi atau uang. Namun, dalam bentuk komentar alias feedback langsung dari pembaca sehingga mereka jadi tahu apa yang disukai atau tidak disukai dari karyanya. Apa yang bisa diperbaiki. Karya seperti apa yang disukai banyak orang. Dengan kata lain, cara ini membuat mereka mampu belajar dan berkembang sebelum akhirnya menerbitkan buku secara komersil. Lalu, tentu saja, jika karya mereka memang bagus, cara ini juga memungkinkan penulis untuk memiliki pembaca setia yang menunggu karya-karya barunya, bahkan sebelum karya tersebut dipublikasikan.
Bagaimana kalau ada yang membajak atau melakukan plagiarisme atas karya kita? Bagaimana kalau yang banyak justru kritik?
Ya, tidak apa-apa. Ini adalah tantangan. Ini bahkan bisa dijadikan sarana publikasi karena bahkan komentar buruk sekalipun bisa membuat orang lain penasaran untuk ikut membaca--ikut membuktikan apakah memang karya kita seburuk itu. Lagipula, in my humble opinion, penulis yang baik adalah penulis yang produktif. Jika satu ceritanya dibajak, atau satu ceritanya dikritik habis-habisan, penulis yang baik tidak berhenti, tetapi malah melahirkan lebih banyak karya lain dengan ide-ide yang lebih original dan lebih baik daripada karya sebelumnya.
Pertanyaannya adalah: Apakah saya sendiri cukup berani untuk melakukannya?
Scribbled on DeCielo's Desk
Depok, 22 Juli 2013

Post a Comment