Dear Readers,
 |
| "Kresek Jumping" by Dizz (2016) |
Sudah sejak beberapa bulan yang lalu saya mencoba mengurangi penggunaan kantong
plastik a.k.a kresek. Kalau belanja di minimarket dan masih bisa masuk tas, walaupun
Mbaknya sudah terlanjur memasukkan belanjaan ke kresek, saya akan
bilang, "Tidak usah pakai kantong plastik, Mbak," (sambil senyum, jadi
Mbaknya senyum juga walaupun harus mengeluarkan lagi, hehehe). Upaya ini memang
belum bisa mengurangi penggunaan kantong plastik saya sepenuhnya, apalagi saat belanja bulanan atau saat beli minuman dingin dan saya tidak mau tas menjadi basah. Oleh sebab itu, sebagai langkah selanjutnya,
bulan kemarin saya membeli tas kain yang agak besar untuk dibawa saat belanja bulanan. Kalau untuk sehari-hari, saya berusaha membawa tas kain kecil
hasil dapat gratisan dari seminar/konferensi. Jadi, tas tersebut bisa dilipat, tetap tipis,
dan bisa masuk kantong atau tas tetapi tidak berat ataupun makan tempat
(tidak keluar uang juga karena gratisan, hehehe).
*Eh, ini bukan maksud
riya', ya. Saya cuma mau sharing cerita untuk menunjukkan bahwa kebiasaan ini bisa
berhasil dibentuk, asalkan memang diniatkan dan diulang-ulang... Buktinya,
sekarang saya bingung mau cari kresek di mana untuk alas tempat sampah
di kost-an, hehehe...
Karena sudah mencoba membiasakan hal tersebut, saya tenang-tenang saja ketika membaca berita bahwa, mulai bulan Februari 2016 ini, di sejumlah kota sudah dilaksanakan penggunaan kantong plastik berbayar. Maksudnya, kalau berbelanja, utamanya di minimarket dan toko swalayan besar, kantong plastiknya tidak lagi gratis seperti biasa. Harga yang dikenakan untuk satu kantong plastik bisa berbeda-beda tergantung tempatnya. Kalau tidak salah, di DKI Jakarta harganya sekitar Rp2.000,00 per kantong, sedangkan di Bekasi Rp200,00--entah kalau di Depok berapa. Harga ini, utamanya harga yang berlaku di Bekasi, dianggap terlalu murah oleh sejumlah orang. Kalau beli sepuluh kantong pun, pertambahan harga belanjaannya tidak akan berasa. Oleh sebab itu, mereka pesimis pemberlakuannya akan mengurangi penggunaan kantong plastik.
*Kalau saya pribadi, sih, berpikir: siapa juga yang mau beli sampai sepuluh atau berpuluh-puluh kantong di minimarket? Kalau memang butuh banyak, mending beli sebungkus sekalian di toko plastik. Mungkin dengan begitu, harganya jadi jauh lebih murah, hehehe...
Saya pikir, isu utamanya memang
bukan uang tetapi kelestarian lingkungan. Masalah kantong kresek itu
bukan sekedar di "berapa banyak jumlah yang dibuang" setiap hari,
melainkan juga "di mana dibuangnya" setiap hari. Saya sering sekali
melihat orang yang setelah pakai, kreseknya dibuang begitu saja sambil
jalan atau dibuang ke luar jendela kendaraan atau dibuang di kolong
angkot saat orangnya sedang naik angkot--ini juga berlaku untuk sampah
lainnya. Ironisnya, orang-orang yang melakukan ini biasanya juga
termasuk orang-orang yang mengeluhkan kenapa kota-kota (dan desa-desa)
di Indonesia kotor, tidak bisa seperti di luar negeri, atau kenapa
banjir, kok, menjadi langganan setiap tahun.
Adapun
ini menjadi isu uang (tepatnya harga) kemungkinan karena masih banyak orang yang menganggap bahwa dengan dikenakan biaya, konsumen akan berpikir dua kali untuk
menggunakan sesuatu. Padahal, saya pikir, masalahnya ada di kebiasaan
dan kemudahan (convenience), bukan di biayanya--setidaknya untuk barang-barang dengan nominal harga yang dianggap murah dan sangat murah. Oleh sebab itu, untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan menggunakan kantong plastik ini, selain lewat penetapan harga dan sosialisasi, kita perlu memikirkan
mekanismenya: "opt-out" atau "opt-in"?
"Opt-out"
artinya: kalau kita tidak bilang apa-apa, otomatis kita akan diberi
kresek. Contohnya seperti cerita saya soal Mbak-Mbak minimarket yang langsung
membungkus belanjaan tadi atau seperti Abang-Abang penjual crepes yang langsung
memasukkan pesanan dalam kotak kalau kita memesannya untuk take-away--padahal ternyata kotaknya di-charge Rp500. Kalau begini, biasanya kita
tidak sadar sudah dikenakan tambahan biaya untuk kemasan dan, kalaupun sadar, sudah
terlanjur atau merasa tidak masalah--sebab penambahannya cenderung kecil.
"Opt-in"
artinya: kalau kita tidak bilang apa-apa, otomatis kita tidak diberi
kresek. Ini saya alami ketika ke Taiwan tahun kemarin (cieee... hehehe). Ketika berbelanja di minimarket, walaupun barangnya banyak, saya
tidak diberi kantong plastik. Saya awalnya bingung. Ketika saya belanja di
minimarket untuk kesekian kalinya, akhirnya saya bertanya apakah ada
kresek. Ternyata kasirnya menjawab ada tetapi akan dikenakan charge (kalau
tidak salah 50 sen per kantong). Ketika saya bilang tidak apa-apa, barulah kresek itu diberikan dan saya membayar.
Menurut saya pribadi, cara opt-in ini lebih efektif kalau kita mau mengurangi
penggunaan kantong plastik. Mengapa? Sebab kita harus bertanya dulu dan dengan sadar
memilih apakah mau membayar untuk kresek atau tidak. Kerepotan untuk
bertanya dan memproses informasi itu cenderung akan membuat kita lebih
enggan untuk memakai kantong kresek.
However, ini pendapat saya saja, ya. Dalam implementasi yang sebenarnya, keputusan yang diambil bisa saja berbeda tergantung preferensi orangnya, jumlah barang belanjaannya, ada tidaknya alternatif untuk kantong plastik, dan sebagainya. Meskipun demikian, tidak ada salahnya untuk dicoba. Setidaknya, pemerintah di daerah-daerah yang memberlakukan aturan kantong plastik berbayar mungkin bisa melakukan penelitian atau menentukan masa percobaan terkait hal ini untuk melihat mana yang lebih efektif. After all, kalau tujuannya memang mengurangi penggunaan kantong plastik, kita memang perlu menerapkan mekanisme yang terbaik, bukan?
Ayo, Readers. Mari ikut mengurangi penggunaan kantong plastik... :-) !
Scribbled on DeCielo's desk,
Jakarta, 24 Februari 2016