0

Satu Tubuh

Posted by Dizz on 4:28:00 PM in

Bapak Ketua itu setengah mati berteriak-teriak. Berusaha mengalahkan riuh ramai suara agar tim sukses acaranya dapat mendengar. Namun, tersampaikan dengan baikkah? Di antara timpalan-timpalan tidak perlu yang menambah ricuh... Yang lebih penting, terdengarkah...? Bukan apa yang digetarkan oleh pita suara, melainkan segala curah tenaga korban perasaan dan lelah yang mengendap dalam dada.

Dia adalah ketua. Seharusnya merupakah pucuk pohon besar yang sedang mereka usahakan untuk berbuah. Adalah ketua. Seharusnya merupakan kepala, yang berpikir, yang mengendalikan. Namun, dia telah berkali-kali turun lewat pembuluh darah, menggerakkan sendiri tangan dan kaki yang seolah tak ingin berpindah. Dia adalah ketua, dan seharusnya seluruh badan ikut sakit ketika dia sakit.

Akan tetapi, kenyataan tak berkata demikian. Mereka sepertinya tak merasakan letihnya. Sepertinya impuls sinaps tidak sampai dengan baik ke titik yang seharusnya menerima. Maka, jadilah mereka kini, satu tubuh lumpuh. Lumpuh. Layu. Ada otak dalam kepala yang bersinar-sinar cemerlang pemikirannya. Namun, tidak menghasilkan apa-apa.

Satu tubuh.

Lumpuh layu.

(Bahkan Hawking pun butuh kursi roda untuk bergerak agar dapat menyampaikan kejeniusannya...)



Depok, 13 Oktober 2010
4.42 P.M.

0

She Will Come!

Posted by Dizz on 1:41:00 AM in
Namanya Chris. Christine Gaffner. Dia seorang perempuan besar berambut ikal pendek yang telah memiliki dua putri yang dikandungnya sendiri. Namun, anak-anaknya, perempuan dan lelaki, jauh lebih banyak daripada itu dan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tidak. Saya tidak sedang lebay. Ini benar, kok.

Dia adalah koordinator saya ketika saya tinggal bersama keluarga Gordon di Lake Station dan Hobart, Indiana, Amerika Serikat. Koordinator adalah posisi yang diberikan bagi relawan organisasi pertukaran pelajar American Field Service (AFS) yang bersedia mengurus anak-anak pertukaran pelajar yang dikirim ke wilayahnya. Kata “mengurus” yang saya gunakan berarti macam-macam, mulai dari mencarikan keluarga angkat yang mau menampung, mencarikan sekolah yang mau menerima, menemani pelajar pertukaran sejak orientasi hingga tiba di kota tempat mereka akan tinggal, membuat rencana dan mengatur kegiatan yang akan mereka lakukan selama di sana, menjadi penengah bila ada konflik antara pelajar dan keluarga angkat, menjadi penghubung antara pelajar dan organisasi AFS, hingga menampung sementara mereka yang belum mendapatkan keluarga agkat. Repot, kan? Ya, koordinator yang baik akan melakukan semua itu dengan baik pula. Tapi, yah, memang tidak semuanya sebaik itu, sih. Oleh karena itulah, saya bisa berkali-kali mengatakan, “I love Chris!

Ketika saya berada di Indiana sekitar tahun 2006 dan 2007, dia mengurus lebih dari sepuluh anak selain saya. Awalnya hanya enam atau tujuh, kemudian bertambah dan bertambah lagi. Hal ini, salh satunya, disebabkan karena dia tidak pernah menolak bila ada anak yang dipindahkan dari wilayah lain ke wilayahnya disebabkan belum juga mendapatkan atau tidak cocok dengan keluarga angkat. Baik, kan? Ya. Selain itu, dia juga ramah, humoris, terbuka, berhati lembut, keibuan, perhatian, namun tetap bisa tegas. Oleh sebab itu, dia bisa menjadi sosok ibu ketiga (jika bukan kedua) setelah ibu kandung dan ibu angkat bagi pelajar dari negara-negara seperti Indonesia, Filipina, Thailand, Ghana, Brazil, Jerman, Turki, Rusia, Azerbaijan, dan Uzbekistan.

Mau kenalan? Bisa saja. Bagi yang berdomisili di Jabodetabek, bertemu denganya bahkan bukan hal yang mustahil. Kenapa? Karena dia akan datang! Ya. Chris akan datang. Dia akan naik pesawat dari Amerika ke Jakarta untuk menghadiri re-orientasi AFS dan tiba pada tanggal 2 Agustus 2010 sekitar pukul setengah enam petang di Bandara Soekarno-Hatta. Insya Allah.

Hm... Hm... Saya senang sekali. Kalau dia jadi datang, saya akan berusaha menemui dia di bandara atau setidaknya mengunjungi dia selama di Jakarta. Sebab, selain koordinator yang sangat baik, dia juga akan menjadi orang Indiana pertama yang akan saya temui lagi setelah sekian lama. Hebatnya, kali ini dia yang datang ke sini! Wah, wah!

Hehehe... Tetapi tidak boleh terlalu excited. Kemungkinan terjadinya perubahan selalu ada. Manusia boleh berkehendak, namun Tuhan yang menentukan, right? Hanya ingin berdoa agar jika dia jadi datang, mudah-mudahan bisa tiba dan pulang kembali dengan selamat sehat wal afiat, bisa menikmati waktunya di Jakarta, dan tidak kapok untuk datang lagi. Aamiiiin... Hmm... Kira-kira, baiknya, dia saya ajak jalan-jalan ke mana, ya?


Sincerely,
Me,
18-5-4

0

Chances: Butuh Uang dan Kerjaan untuk Mengisi Liburan?

Posted by Dizz on 3:11:00 PM in
"Running After Flying Money" by DeCielo (2014)
Liburan panjang selalu menyajikan sebuah dilema atas dua pilihan yang berseberangan pada mahasiswa seperti saya. Mau bengong? Atau berusaha mencari tambahan uang? Ya. Bagi mahasiswa dengan kantong pas-pasan serta kebiasaan boros yang tidak tertolong seperti saya, pulang kampung memang bukan pilihan. Harga tiket yang sedang diterbangkan angin ke langit membuat rindu harus tetap ditahan seperti dendam.


Bengong saja selama tiga bulan tentu bukan pilihan yang baik dan bijak. Selain tidak sehat, buang-buang waktu, dan umumnya berakhir dengan makan, tidur, lalu makan lagi dan tidur lagi, bengong juga tidak membawa manfaat signifikan bagi kondisi finansial pribadi. Oleh sebab itu, pilihan bijak yang tersisa tentu hanya mencari tambahan uang. Namun, di kondisi sulit yang berkepanjangan ini, pekerjaan macam apa yang bisa didapatkan?

Perempuan yang berdomisili di wilayah Jabodetabek pada bulan-bulan seperti ini sebenarnya mendapatkan privillege lebih dalam mencari pekerjaan. Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang diselenggarakan setiap tahun sekitar bulan Juni hingga Juli jelas membutuhkan banyak tenaga kerja untuk menjadi sales promotion staff. Dalam hal ini, perempuan rupawan dengan kemampuan interpersonal tinggi tentu lebih diutamakan dibandingkan dengan lelaki. Selain itu, sejumlah restoran cepat saji juga membuka lowongan kerja paruh waktu untuk umum, dan yang sering memanfaatkannya tentu mahasiswa yang sedang liburan. Namun, semua itu bagai mimpi yang tak akan teraih jika mengingat tinggi badan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada saya. Jadi, ya, sudahlah, ya.

Meskipun demikian, tidak berarti kesempatan memperoleh surplus finansial lantas hilang begitu saja. Jika Anda seperti saya yang tidak memiliki banyak kegiatan, tidak bisa ke mana-mana, lebih sering stay di kost-an atau kampus untuk online, bisa dan mau menghabiskan banyak waktu membaca, serta memiliki kecenderungan besar untuk menulis pikiran-pikiran yang melintasi benak, maka kesempatan untuk mendapatkan uang dari depan layar laptop atau komputer sangat besar, lho! Bukan. Bukan lewat bisnis online yang sedang menjamur di Facebook itu. Hanya dengan menulis. Menulis? Ya. Menulis.

Kompetisi menulis biasanya menjamur di dunia maya menjelang hari-hari besar nasional. Hari Kartini, Sumpah Pemuda, atau yang lainnya cenderung mendorong sejumlah instansi untuk memperingatinya melalui penyelenggaraan kompetisi. Search engine seperti Google adalah alat utama yang dapat dimanfaatkan saat mencari informasi. Selain itu, situs seperti Lombalomba.com dan Ajangkompetisi.com juga sering menjadi kiblat bagi banyak pemburu hadiah. Yes, that’s right! Jika menjadi bounty hunter dalam game online bisa menghasilkan emas bagi karakter game Anda, bounty hunter yang satu ini bisa mendatangkan yang lebih hebat lagi: uang sungguhan.

Iya, sih. Tidak ada jaminan bahwa Anda pasti menang setiap kali mengikuti suatu perlombaan. Namun, seperti yang sering saya ucapkan, ketika mengikuti suatu lomba ada dua kemungkinan, yaitu menang atau kalah. Akan tetapi, jika tidak ikut, kemungkinannya hanya satu. Ya, tidak mungkin menang, kan? Tidak ada salahnya mencoba dan berusaha. Jika menang, uang jutaan rupiah bisa menghiasi buku tabungan. Jika kalah? Ya, setidaknya proses yang telah dijalani membantu kita mengembangkan diri dan bakat kepenulisan, bukan?

Keep trying and praying! Siapa tahu rezeki kita datangnya memang lewat situ. Oh, ya, tapi jangan lupa untuk berusaha bersabar, ya. Soalnya, jangka waktu antara deadline lomba dan pengumuman pemenang biasanya cukup lama. Kalau perlu, lupakan dan ikhlaskan saja setelah mengirim karya. Toh, kalau menang pasti akan ada yang menghubungi juga. Okay, then. Selamat menulis!


Sincerely,
Me,
18-5-4

1

Aku Suka Tidur

Posted by Dizz on 7:42:00 PM in
Aku suka tidur. Entah mengapa. Padahal, dulu aku sama sekali tidak menyukainya. Dulu, aku merasa bahwa jika tidur aku akan melewatkan banyak hal dan tidak mengetahui apa-apa. Acara televisi pada waktu tengah malam, papa yang pulang membawa kudapan menjelang pagi, bahkan dinamika bangun tidur anggota keluargaku. Aku dulu juga benci tidur karena setiap kali terbangun, hampir semua orang di rumah sudah pergi. Aku terbangun sendirian dalam sepi.

Namun, sekarang, semakin dewasa aku semakin suka tidur. Jika aku merasa ada terlalu banyak hal yang harus dipikirkan dan otakku tidak akan mampu mengakomodasinya, aku lebih baik tidur. Menutup mata, lalu semuanya tiada. Berharap bahwa ketika bangun semua masalah telah selesai. Akan tetapi, kenyataan tentu tidak berjalan seotomatis itu. Biasanya, prokrastinasi yang kujalankan dengan tidur itu membuatku harus mengejar banyak ketinggalan menjelang deadline tugas dan ujian.

Aku suka tidur. Aku suka tidur dari sore hingga pagi. Lalu, tetap mengantuk di kelas hingga siang hari. Teman-temanku sering menggoda bahwa aku tidak perlu belajar. Setiap kali dosen memberi pertanyaan atau soal yang harus dikerjakan di kelas, aku hampir selalu dapat menjawabnya meskipun tiga detik sebelumnya aku masih menguap dan lelap. Padahal, nilai aku di SIAK juga jelek, kok, terutama akhir-akhir ini. Hahahaha.

Jika ada hal lain yang aku sukai hampir sama seperti aku menyukai tidur, mungkin itu adalah kegiatan bersih-bersih. Kontras, bukan? Tapi, ya, sudahlah. Kosongnya weekend ini, yang seharusnya kuisi dengan bersih-bersih, mencuci, mengerjakan tugas, dan mengetik verbatim hasil wawancara orang, malah lebih banyak kuhabiskan dengan bengong sampai tertidur. Hahaha. Hmm... Apakah ini sebuah kelainan psikologis, ya? Entahlah.

Fey, Ayu, cepat balik, ya...! Aku sepertinya tidak punya semangat hidup selain untuk bengong dan tidur tanpa kalian recokin saat berusaha mengerjakan tugas...! Hahahaha. Tapi, Alhamdulillah, setidaknya hari ini bisa benar-benar banyak beristirahat. Yah, anggap saja satu hari untuk me-recharge energi seminggu lebih. Ganbatte!!


Sincerely,
Me,
18-5-4

1

Gurat Gores Pertama

Posted by Dizz on 2:22:00 AM in ,
Langit merah ini bukanlah anak pertama yang aku lahirkan melalui percintaan dengan sebuah site bernama Blogspot. Bukan. Anak pertama kami adalah segulung perkamen kecil bertajuk Tentang Mimpi yang aku gelar untuk pertama kalinya pada bulan Maret 2004. Aku sudah lupa apa yang menjadi motivasi dan mendorongku untuk melahirkannya ke dunia maya. Kalau tidak salah, sih, keinginan itu timbul setelah membaca blog seorang penulis muda yang sempat menjadi teman bertukar sapa dan cerita lewat beberapa email dan sms singkat. Namun, entahlah. Agaknya aku memang sudah lupa.

Singkat cerita, blog pertama itu aku telantarkan sejak bulan Desember tahun berikutnya. Lalu, setelah lama berselang, pada bulan Februari 2006, aku kembali tergerak untuk memandikan dan memberinya makan sekali lagi, sebelum benar-benar aku tinggalkan dalam perawatan ayahnya. What a neglectful parent I am, eh?.

Mengapa? Tidak ada hal yang khusus sebenarnya. Aku sama sekali tidak memiliki dendam pribadi dengan anakku yang satu itu. Hanya saja, kefasihanku dalam menggubah dan menulis puisi sudah memudar seiring berjalannya waktu yang akhirnya lebih banyak ku habiskan dengan lomba debat, belajar, dan bertandang ke negeri orang. Maka, daripada mengisinya dengan sampah yang digubah dengan pemaksaan dan tuntutan, aku memilih untuk tidak mengisinya lagi sama sekali. Alasan lain yang sepertinya cukup berpengaruh adalah belum adanya sarana wi-fi yang memungkinkan aku untuk berlama-lama online di sekolah.

Jadi.... Mengapa akhirnya aku kembali bercinta dengan Blogspot dan melahirkan anak kedua ini? Hmm... Setelah masuk kuliah, aku mulai menjunjung tinggi hak untuk berprokrastinasi dengan online berjam-jam menggunakan fasilitas wi-fi kampus. Hasilnya, setelah bosan dengan social nerworking site, seperti Friendster, MySpace, Multiply, Facebook, dan kawan-kawannya, aku mulai tersasar ke berbagai tempat dan memiliki hobi baru, yaitu blog-jumping. Ya. Jumping. Bukan walking. Aku menggunakan link atau bloglist dari satu blog ke blog lain sambil melihat-lihat. Jika ada yang menarik, aku baca. Jika tidak, aku lompati menuju blog berikutnya. Dari hobi itulah, aku mulai iri, terutama dengan blog orang-orang yang aku kenal. Aku juga mulai melihat opportunity untuk menulis hal selain puisi. Akhirnya,.... Tadaaaa! Voila! Jadi pula sebentang langit untuk kujadikan ruang singgah.

Mengapa langit, dan mengapa merah? Langit adalah bagian dari alam yang paling aku sukai. Sejak kecil, aku tinggal tidak jauh dari pantai. Setiap kali aku memiliki kesempatan untuk duduk di pinggir pantai, langit turut tertangkap oleh mataku. Sebagaimana luas laut membentang, seluas itu pula langit melayang di atasnya. Aku suka laut. Namun, aku lebih suka langit. Merahnya langit senja adalah yang paling indah. Apalagi saat ia mengantarkan matahari ke pembaringannya. Langit seolah seorang ayah yang mengecup dahi putrinya yang akan segera terlelap berselimutkan air laut. Oleh karena itu, aku suka langit merah.

Nah, sekarang sudah tahu, kan, asal-muasal tempat ini? Sekarang aku akan mulai menulis. Menulis apa? Apa saja. Tugas kuliah, nilai, kampus, kost-an, tempat makan, DVD, buku, game baru... Apa saja.

Wish that you can enjoy all the writings in here... If you can't... Well, just feel free to stop by and say hi...(^_^)/



Sincerely,
Me,
18-5-4

Copyright © 2009 Scribbling Dizz All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.