1
Gurat Gores Pertama
Langit merah ini bukanlah anak pertama yang aku lahirkan melalui percintaan dengan sebuah site bernama Blogspot. Bukan. Anak pertama kami adalah segulung perkamen kecil bertajuk Tentang Mimpi yang aku gelar untuk pertama kalinya pada bulan Maret 2004. Aku sudah lupa apa yang menjadi motivasi dan mendorongku untuk melahirkannya ke dunia maya. Kalau tidak salah, sih, keinginan itu timbul setelah membaca blog seorang penulis muda yang sempat menjadi teman bertukar sapa dan cerita lewat beberapa email dan sms singkat. Namun, entahlah. Agaknya aku memang sudah lupa.
Singkat cerita, blog pertama itu aku telantarkan sejak bulan Desember tahun berikutnya. Lalu, setelah lama berselang, pada bulan Februari 2006, aku kembali tergerak untuk memandikan dan memberinya makan sekali lagi, sebelum benar-benar aku tinggalkan dalam perawatan ayahnya. What a neglectful parent I am, eh?.
Mengapa? Tidak ada hal yang khusus sebenarnya. Aku sama sekali tidak memiliki dendam pribadi dengan anakku yang satu itu. Hanya saja, kefasihanku dalam menggubah dan menulis puisi sudah memudar seiring berjalannya waktu yang akhirnya lebih banyak ku habiskan dengan lomba debat, belajar, dan bertandang ke negeri orang. Maka, daripada mengisinya dengan sampah yang digubah dengan pemaksaan dan tuntutan, aku memilih untuk tidak mengisinya lagi sama sekali. Alasan lain yang sepertinya cukup berpengaruh adalah belum adanya sarana wi-fi yang memungkinkan aku untuk berlama-lama online di sekolah.
Jadi.... Mengapa akhirnya aku kembali bercinta dengan Blogspot dan melahirkan anak kedua ini? Hmm... Setelah masuk kuliah, aku mulai menjunjung tinggi hak untuk berprokrastinasi dengan online berjam-jam menggunakan fasilitas wi-fi kampus. Hasilnya, setelah bosan dengan social nerworking site, seperti Friendster, MySpace, Multiply, Facebook, dan kawan-kawannya, aku mulai tersasar ke berbagai tempat dan memiliki hobi baru, yaitu blog-jumping. Ya. Jumping. Bukan walking. Aku menggunakan link atau bloglist dari satu blog ke blog lain sambil melihat-lihat. Jika ada yang menarik, aku baca. Jika tidak, aku lompati menuju blog berikutnya. Dari hobi itulah, aku mulai iri, terutama dengan blog orang-orang yang aku kenal. Aku juga mulai melihat opportunity untuk menulis hal selain puisi. Akhirnya,.... Tadaaaa! Voila! Jadi pula sebentang langit untuk kujadikan ruang singgah.
Mengapa langit, dan mengapa merah? Langit adalah bagian dari alam yang paling aku sukai. Sejak kecil, aku tinggal tidak jauh dari pantai. Setiap kali aku memiliki kesempatan untuk duduk di pinggir pantai, langit turut tertangkap oleh mataku. Sebagaimana luas laut membentang, seluas itu pula langit melayang di atasnya. Aku suka laut. Namun, aku lebih suka langit. Merahnya langit senja adalah yang paling indah. Apalagi saat ia mengantarkan matahari ke pembaringannya. Langit seolah seorang ayah yang mengecup dahi putrinya yang akan segera terlelap berselimutkan air laut. Oleh karena itu, aku suka langit merah.
Nah, sekarang sudah tahu, kan, asal-muasal tempat ini? Sekarang aku akan mulai menulis. Menulis apa? Apa saja. Tugas kuliah, nilai, kampus, kost-an, tempat makan, DVD, buku, game baru... Apa saja.
Wish that you can enjoy all the writings in here... If you can't... Well, just feel free to stop by and say hi...(^_^)/
Sincerely,
Me,
18-5-4
Singkat cerita, blog pertama itu aku telantarkan sejak bulan Desember tahun berikutnya. Lalu, setelah lama berselang, pada bulan Februari 2006, aku kembali tergerak untuk memandikan dan memberinya makan sekali lagi, sebelum benar-benar aku tinggalkan dalam perawatan ayahnya. What a neglectful parent I am, eh?.
Mengapa? Tidak ada hal yang khusus sebenarnya. Aku sama sekali tidak memiliki dendam pribadi dengan anakku yang satu itu. Hanya saja, kefasihanku dalam menggubah dan menulis puisi sudah memudar seiring berjalannya waktu yang akhirnya lebih banyak ku habiskan dengan lomba debat, belajar, dan bertandang ke negeri orang. Maka, daripada mengisinya dengan sampah yang digubah dengan pemaksaan dan tuntutan, aku memilih untuk tidak mengisinya lagi sama sekali. Alasan lain yang sepertinya cukup berpengaruh adalah belum adanya sarana wi-fi yang memungkinkan aku untuk berlama-lama online di sekolah.
Jadi.... Mengapa akhirnya aku kembali bercinta dengan Blogspot dan melahirkan anak kedua ini? Hmm... Setelah masuk kuliah, aku mulai menjunjung tinggi hak untuk berprokrastinasi dengan online berjam-jam menggunakan fasilitas wi-fi kampus. Hasilnya, setelah bosan dengan social nerworking site, seperti Friendster, MySpace, Multiply, Facebook, dan kawan-kawannya, aku mulai tersasar ke berbagai tempat dan memiliki hobi baru, yaitu blog-jumping. Ya. Jumping. Bukan walking. Aku menggunakan link atau bloglist dari satu blog ke blog lain sambil melihat-lihat. Jika ada yang menarik, aku baca. Jika tidak, aku lompati menuju blog berikutnya. Dari hobi itulah, aku mulai iri, terutama dengan blog orang-orang yang aku kenal. Aku juga mulai melihat opportunity untuk menulis hal selain puisi. Akhirnya,.... Tadaaaa! Voila! Jadi pula sebentang langit untuk kujadikan ruang singgah.
Mengapa langit, dan mengapa merah? Langit adalah bagian dari alam yang paling aku sukai. Sejak kecil, aku tinggal tidak jauh dari pantai. Setiap kali aku memiliki kesempatan untuk duduk di pinggir pantai, langit turut tertangkap oleh mataku. Sebagaimana luas laut membentang, seluas itu pula langit melayang di atasnya. Aku suka laut. Namun, aku lebih suka langit. Merahnya langit senja adalah yang paling indah. Apalagi saat ia mengantarkan matahari ke pembaringannya. Langit seolah seorang ayah yang mengecup dahi putrinya yang akan segera terlelap berselimutkan air laut. Oleh karena itu, aku suka langit merah.
Nah, sekarang sudah tahu, kan, asal-muasal tempat ini? Sekarang aku akan mulai menulis. Menulis apa? Apa saja. Tugas kuliah, nilai, kampus, kost-an, tempat makan, DVD, buku, game baru... Apa saja.
Wish that you can enjoy all the writings in here... If you can't... Well, just feel free to stop by and say hi...(^_^)/
Sincerely,
Me,
18-5-4