0

Dreams (Do) Come True: Berdasarkan Kisah Nyata (Saya)

Posted by Dizz on 5:54:00 PM in , ,

Dear Readers,

"A Piece of Brisbane River" taken by Dizz

Dua tahun dan beberapa hari telah berlalu sejak terakhir saya mem-publish tulisan di blog ini. Ada banyak sekali hal yang telah terjadi. Terlalu banyak sehingga tidak mungkin saya ceritakan satu per satu. Yang ingin saya katakan hanya satu: Dreams do come true. Ya, Readers. Apapun mimpi kita, semuanya bisa menjadi kenyataan. Setidaknya, itulah yang saya rasakan.

Mungkin Readers masih ingat tulisan saya yang ini. Di situ, saya bercerita bahwa Ayu Marayu telah berhasil mimpinya untuk kuliah S2. Sejak kuliah S1 dan berdiam di kost-an Pondok Ganeca, kami memang sudah berangan-angan untuk itu. Alasannya? Kami ingin memiliki lebih banyak pengetahuan dan kemampuan yang bisa kami bagikan dan dapat kami gunakan untuk membantu orang lain. Namun, kami tidak punya uang untuk membiayai pendidikan kami sendiri. Beasiswa untuk kuliah di dalam negeri (pada saat itu) masih lebih jarang daripada beasiswa luar negeri. Jadilah angan-angan kami melayang hingga ke negeri orang. Saat itu kami belum tahu caranya, belum melihat jalannya, dan (sejujurnya) cukup muak kuliah karena skripsi yang tak kunjung terlihat akhirnya. Namun, Tuhan memang Maha Mendengar dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Apapun yang kita ucapkan, ketika sungguh-sunggu diinginkan, akan menjadi doa dan dikabulkan. Entah kapan, di mana, atau bagaimana caranya, pasti akan ada saatnya.

Ya, Readers. Tuhan telah memberikan saya kesempatan serupa. Di akhir tahun 2016, saya mendapatkan Australia Award Scholarship (AAS) untuk kuliah master di the University of Queensland (UQ). Tidak untuk psikologi, tetapi Communication for Social Change. Minat saya belum berganti, hanya berkembang menjadi lebih luas saja. After all, dulu harapan saya memang untuk kuliah ke luar negeri, tidak spesifik minta jurusan apa (note: kalau memang harapannya spesifik, baiknya spesifik juga doanya, ya).

Untuk saya, kesempatan ini adalah anugerah yang luar biasa. Jika hanya dipikir dengan akal, mengingat situasi keuangan pribadi dan orangtua, tidak mungkin rasanya saya bisa kuliah S2, apalagi di Australia. Namun, nyatanya sekarang saya sedang bersiap memasuki semester terakhir saya. Luar biasa, ya. Bukan, bukan saya. Kuasa Tuhan yang luar biasa.

Panjang memang jalannya. Di tahun 2014, saya sempat mendaftar beasiswa Erasmus untuk belajar Women Studies ke Hungaria. Saat itu, saya sudah mendapatkan email penerimaan dari Central European University (CEU) tetapi tidak mendapatkan beasiswa. Lalu, di tahun 2016, saya mencoba mendaftar beasiswa Taiwan Scholarship Program (TSP) untuk belajar psikologi di Asia University, Taichung. Saat itu, saya mendapatkan beasiswa A dari Asia University yang mencakup seluruh biaya kuliah (full tuition), asrama (kecuali saat libur semester), dan uang saku. Namun, saya tidak mendapatkan beasiswa TSP dan masih harus menanggung sendiri biaya tiket, asuransi (diwajibkan oleh pemerintah Taiwan), serta biaya-biaya lain yang tidak mungkin tertutupi hanya dengan uang saku yang ada. Saat itu, saya sudah mau nekat saja. Namun, saya juga masih memiliki kekhawatiran karena tidak mengerti Bahasa Mandarin sama sekali. Walaupun bahasa pengantar untuk kuliah di sana adalah Bahasa Inggris, dengan keterbatasan tersebut, saya pikir, tidak mungkin rasanya mendapatkan kerja part-time untuk menutupi kekurangan biaya di sana. Saya ingat, dalam percakapan telepon kami, Ma’ saya kemudian berkata:


“Tidak usah, ya. Dilepas saja. Tunggu saja yang Australia Award. Kalau yang itu memang tidak dapat, berarti memang belum waktunya.”


Berat rasanya mendengar itu. Berat rasanya melepaskan apa yang sudah saya harapkan sejak lama. Akan tetapi, saya percaya bahwa jika memang jalannya, saya pasti akan ke sana. Jika bukan, dipaksakan seperti apapun, mau jungkir balik pun, tetap tidak akan bisa. Jadi, akhirnya semua saya ikhlaskan dan serahkan kepada Sang Maha.


Ternyata, Yang Maha Kuasa menunjukkan bahwa jalan saya adalah ke Australia.


Jika dipikir-pikir, ajaib rasanya. Sebelumnya, saya tidak pernah terpikir untuk ke sana. Sebelumnya, saya tidak tahu apa-apa tentang Australia. Saya saat itu mendaftar karena Ayu Marayu menyarankan dan masa pendaftarannya masih buka. Karena prosesnya online dan saya sudah punya semua berkas yang dibutuhkan (dari persiapan untuk TSP), saya coba saja. Semua berkas saya submit satu hari sebelum pendaftaran ditutup. Setelah itu, Tuhan yang melanjutkan. Dan, di sinilah saya hari ini: ketak-ketik blog di depan laptop untuk rehat sejenak dari mengerjakan proposal tesis. Frustrasi karena tidak kunjung selesai tetapi sangat bersyukur bisa ada di posisi ini.

Cuma begitu saja ceritanya? Iya, cerita saya, sih, cuma begitu saja. Kalau Readers mau coba mendaftar juga, prosedur dan ketentuan beasiswa AAS bisa dicek sendiri di sini, ya, hehehe. Pendaftaran AAS biasanya dibuka antara bulan Februari dan April setiap tahunnya. Jadi, jika Readers berminat, baiknya dari sekarang siapkan berkas-berkasnya. Kalaupun nilai TOEFL atau IELTS-nya terlalu pas di garis batas, coba saja. Kalau Readers dinyatakan lulus sebagai awardee, nanti akan ada pre-departure training (PDT) yang mencakup pemantapan bahasa Inggris. PDT ini bisa 7 minggu hingga 9 bulan, tergantung skor IELTS Readers. Semakin tinggi skornya, semakin singkat PDT-nya.


Serius, nih, ceritanya begini saja? Iya. Tapi, nih, saya kasih bonus cerita lain yang luar biasa:


Setelah berjuang selama dua setengah tahun di program yang beberapa kelasnya berbahasa Korea, pada bulan Februari 2018, Ayu Marayu akhirnya memperoleh gelar masternya. Luar biasa, ya. Ketika berangkat di tahun 2015 dulu, Ayu Marayu sama sekali tidak bisa berbahasa Korea*, lho. Selama kuliah, dia bekerja apa saja agar bisa menanggung separuh biaya hidup dan membayar uang kuliah semester terakhir yang sudah tidak lagi ditanggung beasiswa. Setelah bergalon-galon keringat dan air mata, dia akhirnya diwisuda. Lebih luar biasanya lagi, saat ini Ayu Marayu sudah berada di Amerika. Dia mendapatkan beasiswa untuk program persiapan selama satu tahun di sana. Jika hasil evaluasinya baik, Ayu Marayu akan mendapatkan beasiswa lanjutan untuk program Ph.D selama 6 tahun berikutnya. 

Iya. Itu si Ayu Marayu. Kawan yang dari dulu selalu merasa bahwa menulis itu susah. Kawan yang dulu sering nangis bersama saya di Pondok Ganeca karena skripsi kami sama-sama lama selesainya.


Bangga rasanya ^^ 


Entah kapan bisa seperti dia: menyelesaikan tesis, wisuda, dan dapat beasiswa lagi untuk lanjut kuliah. Mohon doanya saja, ya. Moga-moga tesis saya dan program persiapan dia berjalan lancar. Aamiin.


Sudah, ya. Begitu saja ceritanya. Kalau butuh tambahan inspirasi atau kata-kata, nanti kita lanjut di kolom komentar saja. Yang penting, ingat, ya: dreams do come true! Apapun impian kalian, niatkan, ucapkan, usahakan, dan doakan. Selanjutnya, biar Tuhan yang menunjukkan jalan.

Tetap semangat, Readers!



Scribbled on DeCielo’s desk,
Depok, 8 Juli 2018



*Tidak disarankan. Kalaupun bahasa pengantar kuliah adalah bahasa yang sudah dikuasai, Readers sebaiknya juga membekali diri dengan kemampuan bahasa sesuai dengan negara yang dituju untuk memudahkan, baik dalam proses belajar, berinteraksi dengan orang lain di kehidupan sehari-hari, dan memperoleh penghasilan tambahan jika memungkinkan.



0 Comments

Post a Comment

Copyright © 2009 Scribbling Dizz All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.